Beranda > Israel Dalam Pergolakan Mesir > Israel Tetap Dukung Mubarak

Israel Tetap Dukung Mubarak

PDF Print
Tuesday, 01 February 2011
Image 

ANTIREZIM, Boneka Presiden Hosni Mubarak kemarin digantung di tiang lampu lalu lintas di pusat Kota Kairo di saat ratusan ribu warga Mesir berkumpul untuk berunjuk rasa menyerukan agar Mubarak yang sudah 30 tahun berkuasa mundur.

KAIRO(SINDO) – Revolusi Mesir menimbulkan kegamangan hebat terhadap seluruh pejabat dan rakyat Israel.Mereka mencemaskan negara masa depan itu tanpa Presiden Hosni Mubarak. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan, kekisruhan yang mengarah pada revolusi Mesir membuatnya “waspada dan khawatir”. Dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman Angela Merkel,Netanyahu mengungkapkan Mesir dapat dikuasai rezim Islam radikal seperti halnya Iran.  

Netanyahu juga mengkhawatirkan skenario revolusi Iran pada 1979 akan berulang di Mesir.Dia pun berharap traktat perdamaian dengan Mesir yang telah berusia tiga dekade dapat bertahan meski nantinya ada perubahan rezim.Dia menekankan dua poin utama pelajaran dari revolusi Mesir.Pertama,adanya pesan bahwa Islam radikal mungkin mengambil alih Negeri Piramida itu dan, kedua, kenyataannya Israel merupakan negara yang paling stabil diTimurTengah.

“Kita berada pada sebuah pulau yang stabil di wilayah ini,” kata Netanyahu kepada Merkel.“Kepedulian kita adalah ketika adanya perubahan yang cepat,tanpa segala aspek demokrasi yang modern pada tempatnya, maka apa yang akan terjadi? Itu sama saja mengulangi apa yang telah terjadi di Iran dan akan meningkatkan rezim Islam radikal yang sering menekan.”

Menurut Netanyahu,rezim masa depan di Mesir merupakan pemerintahan yang bakal melanggar hak asasi manusia dan tidak menumbuhkan demokrasi atau kebebasan dan akan melegalkan ancaman untuk perdamaian. Netanyahu mengungkapkan, para pemimpin dunia lainnya juga merasakan hal yang sama.“Semua orang berharap stabilitas dapat dipulihkan di Mesir, perdamaian dapat dijaga, dan situasi dalam diselesaikan dengan cara-cara yang damai,” tegasnya.

Dia menuturkan, sumber kerusuhan di Mesir memang bukan Islam radikal,tetapi itu diorganisasikan oleh elemen Islam. Perhatian utama Israel adalah kekhawatiran aksi revolusi Mesir dikomandoi kelompok oposisi Mesir, Persaudaraan Muslim atau yang lazim dikenal dengan Ikhwanul Muslimin (IM). “Israel kini sedang dibayangi ketakutan: ketakutan demokrasi.Tidak hanya di sini, tetapi di tetangga sebelah,” ujar Sever Plocker, komentator Israel yang menulis di harian Yediot Ahronot.

“Padahal, kita tidak pernah berdoa kepada tetangga Arab kita untuk menjadi negara demokrasi liberal.” Bisa dibayangkan jika Mesir dikuasai kelompok Islam.Israel akan selalu siaga perang. Di masa dulu, ketika Israel dan Mesir dalam kondisi perang,Tel Aviv menganggarkan 23% dari produk domestik bruto untuk kepentingan pertahanan pada 1970-an. Setelah perjanjian damai, Israel hanya menganggarkan 9% saja untuk pertahanan.

Dulu Israel menempatkan ribuan tentara di sepanjang perbatasan Mesir,kini hanya beberapa ribu saja. Jika nantinya Mesir berkonflik dengan Israel, pasti Tel Aviv akan sangat ketakutan dan khawatir. Meski Israel mendapatkan dukungan penuh dari Barat, jika Israel kembali berkonflik dengan Mesir, hal itu akan melemahkan negara-negara pro-Barat seperti Yordania dan Arab Saudi. Eli Shaked,mantan Duta Besar Israel untuk Kairo, memprediksi hubungan kedua negara bakal menghadapi masa-masa yang suram.“ Jika pemilu bakal digelar,hasilnya IM bakal menang dan menjadi kekuatan dominan dalam pemerintahan Mesir mendatang,” katanya.

Israel Gagal Prediksi Mesir

Anggota parlemen Israel (Knesset) mengajukan penyidikan terhadap kinerja intelijen pemerintah yang tak mampu mendeteksi secara dini kerusuhan di Mesir.Sebelum pecahnya kerusuhan di Mesir,Kepala Intelijen Militer Israel Aviv Kochavi mengungkapkan pemerintah Mubarak tidak mendapatkan ancaman pada pidatonya di awal tahun 2011. Akibat kegagalan intelijen Israel itu, militer pun mulai mengonsolidasikan diri.

“Kami mengerahkan banyak sumber daya untuk memonitor Mesir,karena itu kami seharusnya melihat ini akan terjadi,” tutur seorang pejabat intelijen Israel kepada New York Times. “Kami sedang memeriksa kegagalan apa yang menyebabkan kita salah membaca situasi.” Salah satu anggota parlemen Mesir Aryeh Eldad menuturkan, Kochavi tidak mampu memprediksi perang dan revolusi yang terjadi di Mesir.Padahal, intelijen Israel memiliki jaringan di seluruh dunia.

Ini merupakan kebodohan intelijen Mesir sepanjang sejarah. Sementara itu, mengenai kemungkinan tumbangnya Mubarak, Kochavi kemarin mengungkapkan, IM tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengambil alih kekuasaan dan tidak memiliki kedekatan dengan militer.Menurut anggota Komite Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan, Kochavi yakin bahwa Mubarak mampu mengendalikan aksi demonstrasi dan pemerintahannya tetap stabil. (NYT/Haarezt/JP/ Al Jazeera/andika hm)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: