Beranda > Indonesia Dalam Krisis Mesis > “Mesir Lebih Parah Ketimbang Indonesia 1998”

“Mesir Lebih Parah Ketimbang Indonesia 1998”

Krisis Politik Mesir

Jum’at, 4 Februari 2011 – 19:12 wib
Bagus Santosa – Okezone
JAKARTA – Rombongan keluarga asal Bekasi yang ingin menyaksikan keluarganya sidang tesis program S2 terpaksa harus kembali lagi ke Indonesia 

Keluarga tersebut tak bisa menyaksikan sidang Mahasiswa bernama Mumtaz Muchtar (30). Kondisi Mesir yang kacau membuat kampusnya diliburkan.

Sementara keluarga yang sudah terlanjur berangkat ke Mesir untuk menyaksikan upacara wisuda ternyata juga tertahan di Mesir.

Dua hari sebelum kerusuhan, Mumtaz sudah siap untuk melakukan sidang tesis (munaqosah), namun apa daya karena kondisi perpolitikkan Mesir yang kacau membuatnya tidak jadi mendapatkan gelar S2.

“Jadi kakak saya mau di sidang akhir Januari ini terus keluarga sekalian mau beri mental suport Januari, dua minggu lalu,” ujar Faiz, adik Mumtaz Muchtar yang menunggu kedatangan keluarga dan kakaknya tersebut saat berbincang dengan okezone, Jumat (4/2/2011).

Faiz mengaku sedang menjemput keluarganya yang ingin menyaksikan Mumtaz disidang yang malah terjebak dalam gejolak Mesir akhir-akhir ini.

“Akhirnya keluarga sudah pulang kesini”, ujar Faiz.

Dia mengatakan delapan anggota keluarga yang pergi ke Mesir dan sekarang  sudah pulang. Mereka terdiri dari, ibu, nenek, dua orang  kakak, ipar, dan keponakan.

Hj Djuhro, nenek Mumtaz, setibanya di tanah air sempat merasakan kecewa lantaran dia tidak bisa melihat cucunya tak jadi disidang. “Akhirnya tak jadi sidang karena situasinya begitu, mau gimana lagi,” ujar nenek yang masih tampak segar ini.

Bahkan dia juga sempat bercanda, “Dosennya saja pada kagak ada”, ujarnya dengan logat betawi yang kental.

Djuhro sedih karena dia takut tak bisa lagi menyaksikan cucunya di wisuda S2. “Ingin sih melihat dia (Mumtaz) wisuda tapi gimana lagi, kan tak  bisa ditentukan, mudah-mudahan umur saya masih keburu”, ucapnya dengan nada lirih.

Dia menambahkan, dirinya telah  tiga kali ke Mesir dan kepergian kali ini dikhususkan menengok cucu kesayangannya, sekaligus plesiran ke Turki.

“Saya sudah 3 kali ke Mesir, untuk saat ini saya ingin menghadiri cucu saya sidang. Niatnya tanggal 23 januari nantinya mau transit Turki dulu lalu langsung ke Kairo menyaksikan munaqossah. Sampai tanggal 3 Februari kita visitour ke  Turki lagi,” terangnya.

Situasi Mesir, menurutnya lebih parah ketimbang kejadian 1998 lalu. “Kondisi disana itu lebih parah dari di indonesia waktu itu (1998-red)”, ujarnya.

“Tiga hari saya tak keluar, pokoknya dari Jumat, Sabtu, Minggu, Saya tak keluar-keluar, jam malamnya juga diberlakukan dari jam 3 sore sampai jam  8 pagi,” tutur Djuhro.

Selain itu, ia juga menyayangkan terputusnya komunikasi dengan keluarga di indonesia.”Masalahnya empat hari itu putus internet tak bisa kontak dengan keluarga yang di Indonesia”, tuturnya.
(ugo)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: