Beranda > Mesir Membara > Mesir Makin Genting

Mesir Makin Genting

Jumat, 4 Februari 2011 | 02:41 WIB

Kairo, Kompas – Situasi politik di Mesir makin tak menentu setelah kubu penentang dan pendukung Presiden Hosni Mubarak bentrok di Lapangan Tahrir, Kairo, sejak Rabu. Massa masih bertahan di lapangan tersebut hingga Kamis (3/2).

Suara tembakan masih terdengar hingga radius sekitar 200 meter dari Lapangan Tahrir di sela-sela teriakan massa dari kubu pro dan anti-Mubarak. Sementara helikopter militer terbang rendah di atas kerumunan massa di lapangan tersebut. Demikian dilaporkan wartawan Kompas Musthafa Abdul Rahman dari Kairo, Kamis malam.

Semua akses masuk ke Lapangan Tahrir sudah ditutup pada radius 1 kilometer dari semua arah. Hanya warga pengunjuk rasa yang boleh masuk.

Massa anti-Mubarak masih menguasai pintu menuju Lapangan Tahrir dari arah Bundaran Talaat Harb. Sementara massa pro-Mubarak menguasai akses masuk Tahrir dari arah Museum Nasional.

Jalan dari Bundaran Talaat Harb menuju Bundaran Abdel Mun’im Riyadh, yang terletak di belakang Museum Nasional, dijadikan kawasan pembatas yang dijaga dua barikade tank untuk memisahkan antara massa pro dan kontra-Mubarak. Dua barikade itu dipisah daerah penyangga selebar sekitar 50 meter.

Meski sudah dipisah daerah penyangga, kedua kelompok massa masih saling melempar batu dan botol kosong.

Wartawan Kompas sempat dicegat massa anti-Mubarak di Bundaran Talaat Harb, sekitar 200 meter dari Lapangan Tahrir. Kamera Kompas sempat disita sebelum akhirnya dikembalikan setelah diambil kartu memorinya. ”Kami sudah tidak mengakui semua kartu wartawan yang dikeluarkan pemerintah. Sekarang sudah tak ada lagi pemerintah. Jangan Anda maju lagi dari daerah ini karena di depan ini adalah daerah perang. Lebih baik Anda kembali demi keselamatan Anda,” kata salah seorang dari mereka kepada Kompas.

Hari penentuan

Bentrokan antara dua kubu pecah, Rabu, setelah demonstran anti-Mubarak kecewa dengan isi pidato Mubarak, Selasa malam. Dalam pidato itu, Mubarak berkeras tidak mau lengser dan hanya berjanji tak akan mencalonkan diri lagi dalam pemilu September.

Pengerahan massa pro-Mubarak ke jalan-jalan di Kairo dan kota-kota lain di Mesir merupakan upaya terakhir pemerintahan Mubarak untuk menyelamatkan kekuasaan. Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengatakan, ”Seseorang yang loyal kepada Mubarak mengerahkan orang-orang ini untuk mengintimidasi para demonstran.”

Stasiun televisi Al Jazeera menunjukkan, sebagian massa pro-Mubarak yang tertangkap ternyata membawa kartu tanda anggota satuan keamanan atau partai berkuasa di Mesir.

Kubu oposisi sampai saat ini menolak tawaran dialog nasional yang disampaikan pemerintah. Mereka menegaskan, dialog hanya bisa digelar setelah Mubarak mundur.

Salah seorang tokoh oposisi yang juga mantan Direktur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei, dalam wawancara dengan televisi BBCArabic, Kamis, menegaskan, pihaknya menolak berdialog dengan pemerintah sebelum Mubarak mundur.

Menurut ElBaradei, kubu oposisi menuntut tumbangnya rezim terlebih dahulu sehingga semua kekuatan politik yang akan melakukan dialog nasional nanti berada dalam posisi sama. ”Jika menerima dialog dengan pemerintah pada saat ini, berarti kami masih menerima dialog di bawah konstitusi yang berlaku sekarang. Ini sebuah kebohongan besar,” kata ElBaradei.

Sikap yang sama ditunjukkan partai dan kekuatan politik utama di Mesir, seperti Partai Tajamu’, Wafd, Nasseris, Al-Ghad, Lembaga Nasional untuk Perubahan pimpinan Mohamed ElBaradei, Gerakan Pemuda 6 Oktober, Ikhwanul Muslimin, dan aktivis politik kaum Kristen Koptik. Mereka sepakat meminta Mubarak mundur dahulu, kemudian digelar dialog nasional.

Menurut kekuatan-kekuatan politik utama itu, Jumat ini akan menjadi hari penentuan yang mereka sebut ”Jumat Pengusiran Mubarak”.

Sebaliknya, Wakil Presiden Omar Sulaiman menegaskan hanya bersedia menggelar dialog dengan oposisi setelah mereka menghentikan unjuk rasa dan meninggalkan Lapangan Tahrir.

Pemerintah Mesir hingga saat ini masih menolak proses peralihan kekuasaan secara cepat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mesir Hossam Zaki menegaskan, seruan elemen-elemen asing agar dilakukan peralihan kekuasaan sekarang tak bisa diterima dan hanya akan memperkeruh kondisi dalam negeri Mesir.

Utusan khusus Presiden Barack Obama, Frank Wisner, yang menemui sejumlah pejabat tinggi Mesir, Selasa, mengajukan dua usulan sebagai solusi atas krisis di Mesir saat ini. Pertama, Mubarak segera menegaskan kepada rakyat bahwa ia tidak akan mencalonkan diri lagi pada pemilu presiden, September, dan tak akan mewariskan kekuasaan kepada putranya. Kedua, meminta Mubarak langsung melakukan peralihan kekuasaan sekarang.

Mubarak telah melaksanakan permintaan AS yang pertama itu, tetapi masih menolak permintaan kedua.

AS dikabarkan masih mencari figur yang bisa dipercaya sepenuhnya sebagai kandidat pengganti Mubarak sehingga bisa terus menekan Mubarak agar mundur.

Duta Besar AS untuk Mesir Margaret Scobey sudah beberapa kali menelepon Mohamed ElBaradei yang mengesankan bahwa AS menginginkan figur seperti ElBaradei untuk berperan pasca-era Mubarak.

ElBaradei mengajukan dua usulan untuk mengembalikan ketertiban Mesir pasca-Mubarak. Pertama, dibentuk dewan kepresidenan yang beranggotakan tiga tokoh, yakni seorang tokoh dari militer dan dua tokoh dari sipil.

Kedua, Wakil Presiden Omar Sulaiman menjabat presiden sementara untuk masa transisi. Dalam masa transisi itu, parlemen dibubarkan, kemudian disusun konstitusi baru, lalu digelar pemilu presiden dan parlemen yang bebas serta transparan berdasarkan konstitusi baru itu.

Juru bicara Ikhwanul Muslimin, Isyam Eriyan, mengatakan, proses perubahan di Mesir melalui dua tahap. Pertama, serah terima kekuasaan. Kedua, amandemen konstitusi serta melaksanakan pemilu parlemen dan presiden secara bebas dan transparan.

Harga minyak terus naik

Kerusuhan yang melanda Mesir ini memicu kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak mentah Brent di London sempat menyentuh angka 103,37 dollar AS per barrel, tertinggi sejak November 2008. Sementara harga minyak mentah light sweet crude di New York naik menjadi 91,65 dollar AS per barrel.

Kekhawatiran pasar bahwa kerusuhan di Mesir akan meluas ke seluruh Timur Tengah memicu naiknya harga minyak. Mesir memang bukan negara penghasil minyak utama, tetapi minyak yang diangkut melalui Terusan Suez di Mesir mencapai 2,4 juta barrel per hari atau hampir sama dengan angka produksi minyak di Irak. (AP/AFP/Reuters/DHF)

 

Kategori:Mesir Membara
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: