Beranda > Indonesia Dalam Krisis Mesis > Mesir: dari Rusuh ke Kisruh

Mesir: dari Rusuh ke Kisruh

PDF Print
Sunday, 06 February 2011
MESIR sedang rusuh.Kerusuhan yang banyak kemiripannya dengan kerusuhan di Indonesia tahun 1998. 

Di Mesir 2011 ada Presiden Hosni Mubarak yang sudah 30 tahun berkuasa, memerintah dengan tangan besi, didukung oleh Partai Nasional Demokrat (tapi bukan “Nasdem”) yang mayoritas dan berkuasa, pengusaha kroni dan militer, tidak ada kebebasan pers, tidak ada demokrasi, negara stabil dan berkembang secara ekonomi,tetapi rakyat tertindas. Penderitaan rakyat yang tertindas ini akhirnya terakumulasi menjadiunjukrasayangmelibatkan jutaan manusia dan tidak ada kekuatan yang bisa menahannya, termasuk militer. 

Celakanya,sang Presiden justru tidak mau mundur,malah mencoba menawar dan mengubah kabinetnya,bahkan mencoba menyuruh massa tandingan, yaitu anggota-anggotapolisi(awas,jangan langsung dikaitkan dengan Polri) berpakaian preman,berkuda,untuk melawan massa demonstran itu. Akibatnya massa makin beringas, korban mulai berjatuhan, penduduk non-warga negara dan turis dievakuasi,dan pada saat naskah ini ditulis Mubarak sedang menunggu saat-saat kejatuhannya yang dramatis. Kejadian yang sangat mirip terjadi 13 tahun yang lalu di Jakarta. Malah pada waktu gelombang unjuk rasa di Jakarta mulai membesar, Presiden Soeharto sedang ada di Kairo dan dia bersama rombongannya menyaksikan seluruh kejadian dari layar televisi di Kairo.

Pada waktu itu ada Partai Golkar yang berkuasa, ada tentara yang berpolitik,Kopkamtib dan operasi Mawar yang membungkam musuhmusuh politik, pengusaha kroni, pembredelan media massa yang bandel,dsb.Juga ada bentrok massa dan aparat, korban-korban berjatuhan dalam peristiwa Semanggi, Soeharto mencoba bertahan, negosiasi, reformasi kabinetnya, tetapi akhirnya jatuh juga. Terus apa yang akan terjadi sekarang? Apakah Jakarta akan rusuh lagi mengulang kejadian 13 tahun yang lalu? Sebagian orang sudah mencemaskan hal itu,mengingat bagaimana gencarnya politisi-politisi, didukung media di Indonesia, berusaha banget untuk menggoyang SBY. Juga mengingat kemungkinan kebenaran teori domino yang terjadi di Timur Tengah (Pemerintah Tunisia jatuh, Mesir ikut jatuh, akan menyusul Yaman dan mungkin juga Yordania) akan terjadi juga di Indonesia.

Tetapi saya yakin Jakarta tidak akan mengikuti Kairo.Memang banyak sekali persamaan antara Mesir dan Indonesia,tapi Indonesia sekitar satu dekade berada di depan Mesir dalam hal sejarah politik modernnya, bukan di belakangnya, dan sejarah tidak berjalan mundur, karena itu Mesirlah yang akan mengikuti Indonesia. Mesir akan bergeser dari negara yang pernah stabil dan sedang mengalami rusuh menjadi negara kisruh selama lebih dari satu dekade ke depan.

*** Saya bisa menyimpulkan bahwa banyak persamaan antara Indonesia dan Mesir karena saya cukup mengenal Mesir. Pada 1976 pertama kali saya mengunjungi negeri Arab yang mayoritas penduduknya beragama Islam,tetapi ada minoritas Kristennya (sama seperti Indonesia). Pada waktu itu saya belajar di Kairo, bukan di Universitas Al- Azhar, tapi di “kampus” KBRI Kairo, karena pembimbing disertasi saya,Prof Dr Fuad Hassan,kala itu adalah duta besar RI untuk Mesir. Jadi saya harus berkonsultasi ke sana. Saya datang lagi pada 1980,Prof Fuad Hassan masih menjabat duta besar di Kairo, selepas saya menyelesaikan tugas sebagai konsultan untuk suatu proyek Indonesia di Mekkah dan Madinah.

Terakhir saya ke Kairo lagi pada 2007 dan sempat memberi ceramah kepada para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Universitas Al-Azhar. Di Kairo sampai Alexandria (dua tempat yang pernah saya kunjungi) saya mendengar azan lima kali sehari,tetapi juga gereja-gereja di mana-mana.Sebagian wanitanya berjilbab, tetapi sangat jarang yang bercadar, bahkan lebih banyak yang membiarkan rambutnya terbuka. Juga sama dengan Indonesia. Panas,banyak objek wisata, tetapi jorok, lalu lintas macet, dan pengendara ugal-ugalan.Sama lagi dengan Indonesia. Saya diajak menonton tari perut di Ginza City (dekat lokasi piramida yang kesohor itu), dan pada kunjungan yang lain di atas kapal pesiar di Sungai Nil.Kalau di Jakarta daerahnya sekitar ”Mabes Polri” (Mangga Besar pol belok kiri).

Tetapi yang paling mengesankan, di mana-mana,kalau penduduk lokal tahu bahwa saya adalah orang Indonesia, mereka langsung menyebut “Soekarno”, padahal presiden RI waktu saya ke Kairo pertama kali sudah Soeharto. Soekarno jauh lebih dikenal daripada Soeharto, karena seangkatan dengan Presiden Gamal Abdul Nasser yang dicintai masyarakat dan Soekarno pernah ke Mesir. Sayangnya tidak lama setelah berkunjung ke Mesir Soekarno jatuh. Nasib yang sama dialami oleh Soeharto,seperti yang saya sebutkan di atas. Nasib Soekarno yang digulingkan militer dalam peristiwa G30S tahun 1965 dialami juga oleh Anwar Sadat pada 1981 (16 tahun sesudahnya).

Bedanya,di sini yang dibunuh adalah sejumlah jenderal, sedangkan pada Anwar Sadat dia sendirilah yang diasasinasi.Perbedaan lain, militer pembelot dalam peristiwa G30S berkolaborasi dengan partai Komunis, sedangkan Letnan Khalid Islambouli yang mengasasinasi Sadat terkait dengan kelompok radikal Islam. Selanjutnya kekuasaan Soekarno diambil alih oleh Soeharto, salah seorang Jenderal TNI pada waktu itu, karena Soekarno tidak punya wakil presiden, sedangkan kekuasaan Anwar Sadat dilanjutkan oleh Wakil Presiden Marsekal Hosni Mubarak, yang juga militer. Keduanya memerintah sekitar 30- an ke depan, dan mengakhiri riwayatnya dengan banyak kemiripan, seperti yang juga sudah saya uraikan di atas.Terus dari sini Mesir mau ke mana?

*** Di Mesir, kita tahu unjuk rasa besar-besaran yang terjadi saat ini digalang oleh berbagai kekuatan dan aliran politik,yang resmi tetapi membelot, yang di pelarian, yang radikal muslim, yang leftist, nasionalis, cendekiawan, pegawai, mahasiswa, pokoknya semua bersatu. Tujuan mereka hanya satu: jatuhkan Mubarak! Tetapi setelah nanti Mubarak jatuh, siapa yang mau menggantikannya? Nah,di sinilah kekisruhan akan dimulai. Indonesia lebih beruntung karena Soeharto punya Wakil Presiden Habibie,jadi pemerintah tidak pernah vakum presiden, walaupun presiden-presiden setelah Soeharto (Habibie, Gus Dur, Megawati) bergonta-ganti setiap 1- 2 tahun sekali,yang menunjukkan betapa rapuhnya sistem politik pasca-Soeharto.

Hosni Mubarak tidak punya wakil, sehingga bisa dipastikan bahwa begitu dia jatuh semua tokoh oposisi akan merasa paling berhak untuk menjadi presiden. Maka jabatan kepala negara ad-interim langsung akan diperebutkan oleh banyak pihak.Persis seperti bangkai rusa yang dilemparkan ke kerumunan singa yang kelaparan. Pasalnya, semua ingin mengawal pemilu sampai mereka sendiri yang memenangkannya. Pemilu ini juga akan jadi sumber kisruh. Partai-partai politik baru akan muncul di luar 18 partai yang sekarang ada. Akan timbul partai-partai berdasarkan agama (Islam), yang selama ini dilarang. Termasuk tentu Ikhwanul Muslimin (kelompok garis keras yang sangat menentang perjanjian perdamaian dengan Israel).Akan terpilih parlemen (Maglis El-Shaab) baru, presiden baru, menteri-menteri baru, dan seterusnya, tetapi sangat mungkin kekisruhan akan berlanjut sampai belasan tahun ke depan.

Persis seperti yang kita alami sekarang. Pasalnya, boleh saja pemerintah berganti, orang-orang di eksekutif maupun legislatif ditukar dengan orang lain,tetapi hampir bisa dipastikan sikap mental (mindset) orang-orang baru ini tidak berubah. Maka yang dulu KKN juga akan tetap KKN,yang dulu maling ya tetap maling, yang dulu tidak memikirkan rakyat dan saling cari posisi sendiri, juga akan tetap begitu, sampai ada presiden yang cukup tegas,didukung oleh masyarakat dan tidak dihujat-cemooh oleh rakyatnya sendiri,yang akan mengubahnya.

Mudah-mudahan Mesir tidak memerlukan waktu selama Indonesia untuk menemukan presiden seperti itu. Ahlan wa sahlan Mesir di dunia kisruh. Jakarta,4 Februari 2011

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi UI

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: