Beranda > Barat Dalam Pergolakan Mesir > Timur Tengah dalam Tanda Tanya

Timur Tengah dalam Tanda Tanya

Wacana

07 Februari 2011
Tajuk Rencana

Peta politik Timur Tengah, khususnya negara-negara Arab, berada dalam sebuah tanda tanya besar dengan mempertimbangkan seperti apa ending kemelut Mesir saat ini. Penyelesaian politik-kekuasaan di Negeri Piramid itu merupakan bagian dari skenario besar yang dipastikan bakal mengubah keseimbangan geopolitik secara menyeluruh. Keseimbangan itu mencakup lanskap politik global, hubungan Arab dengan Israel, serta pola-pola baru konflik yang terkait dengan masa depan perdamaian di kawasan tersebut.

Tak bisa dipungkiri, Mesir merupakan pilar keseimbangan dalam peta jalan damai, khususnya menyangkut konflik Palestina – Israel. Negeri itu, sejak dasawarsa 1970-an di bawah Anwar Sadat, merupakan ”mitra” Amerika Serikat, Barat, dan Israel dalam tiap upaya perdamaian. Walaupun menghadapi rongrongan dari kelompok Ikhwanul Muslimin yang pro-Hamas, pemerintahan Hosni Mubarak bisa membuat ”tenteram” Israel. Tak mengherankan, dalam situasi sekarang, Israel waswas jika sampai Mubarak tumbang.

Kepentingan Israel terhadap ”stabilitas” Mesir melalui lingkaran kekuasaan yang sejalan dengan Mubarak bisa goyah jika kelak terbentuk pemerintahan berbasis kekuatan-kekuatan yang selama ini beroposisi, tentu termasuk Ikhwanul Muslimin. Bisa berkembang keniscayaan penggalangan poros Arab yang bersikap tegas mendukung kemerdekaan Palestina, karena selain faktor Ikhwanul Muslimin, di Lebanon ada Hizbullah yang disokong Iran, juga arus baru yang diperkirakan muncul dari Yordania dan Suriah.

Secara global, dipastikan Amerika Serikat dan sekutunya akan direpotkan oleh skenario yang menjadi ujung pergolakan di Kairo. Namun, seperti kebiasaannya, Washington selalu bersikap ambigu menghadapi kondisi-kondisi demikian. Atas nama kepentingan hak asasi manusia, mereka mendorong demokratisasi di Irak dengan menggulingkan Saddam Hussein, tetapi akankah mereka bersikap sama terhadap Mesir? Kali ini Amerika tampak sangat gamang menyikapi perkembangan demokratisasi di Mesir.

Menyatakan menentang arus demokratisasi melawan rezim represif Mubarak tentu akan ”turun harga” di mata masyarakat internasional. Sebaliknya, hanya berdiam diri juga dikecam — antara lain oleh Israel — sebagai membiarkan sendirian sekutu pentingnya itu. Jika konsisten, tentu Amerika akan mendorong munculnya pemerintahan demokratis di Kairo, tetapi dengan demikian sama halnya dengan ”memelihara anak macan” yang tidak akan bisa disetir, apalagi ada faktor Ikhwanul Muslimin yang terkoneksi ke Hamas.

”Efek Tunisia” di Kairo ini benar-benar mengguncang keseimbangan politik di Timur Tengah, yang rupanya mengalami kulminasi kefrustrasian terhadap kepemimpinan otoriter dan status quo. Skenario Mesir saja pasti akan mengubah total wajah ”permainan” di kawasan ini, terutama menyangkut nasib perdamaian dan bentuk hubungan Palestina – Israel. Apalagi jika nantinya ”angin” itu juga menerpa negara-negara lain yang selama ini nyaris tak tersentuh oleh aspirasi dan ekspresi suara rakyat.

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad


Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: