Beranda > Ahmadiyah, Buah Ketidak Tegasan Pemerintah > Amnesti Internasional Minta Pemerintah Selidiki Bentrokan Ahmadiyah

Amnesti Internasional Minta Pemerintah Selidiki Bentrokan Ahmadiyah

***)Setiap kali persoalan Ahmadiyah “pecah”, para pengamat atau para tokoh lantas lantang berkoar tentang HAM. Bila sudah begini, secara politis Ahmadiyah sering diuntungkan. Padahal inti persoalan adalah dan ini sepertinya sengaja mereka lupakan, bahwa Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sejatinya telah tidak dikeragui sebagai “perusak” Islam. Karena itu Ahmadiyah dinyatakan sebagai ajaran “Sesat Lagi Menyesatkan“.

Dalam konteks demikian keadaan mereka persis sebagaimana firman Allah SWT, artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Mahapemurah (al-Qur-an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (QS Az-Zukhruf: 36 -37)  _Izhar Ilyas_

Antara
Antara – 1 jam 48 menit lalu
Amnesti Internasional Minta Pemerintah Selidiki Bentrokan Ahmadiyah

London (ANTARA) – Amnesti Internasional meminta pemerintah Indonesia untuk menyelidiki peristiwa bentrokan antara warga dengan pengikut Ahmadiyah yang menewaskan empat orang dan melukai sejumlah orang lainnya di Pandeglang, Banten, Minggu (6/2).

Desakan Amnesti Internasional itu disampaikan Deputi Direktur Asia-Pasifik Amnesti Internasional, Donna Guest, dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Selasa.

“Ini serangan brutal terhadap pengikut Ahmadiyah yang mencerminkan kegagalan pemerintah Indonesia untuk melindungi penganut agama minoritas dari pelecehan dan serangan para pelaku,” kata Donna Guest.

Peristiwa bentrokan terjadi ketika sekitar seribu orang yang menggunakan berbagai senjata tajam dan batu menyerang rumah seorang pemimpin dari kelompok Ahmadiyah di Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Provinsi Banten.

“Polisi Indonesia harus melakukan suatu penyelidikan dengan cepat, menyeluruh dan efektif menjadi kekerasan dan memastikan bahwa mereka yang dicurigai terlibat dituntut di pengadilan yang adil,” ujar Donna Guest.

Ahmadiyah adalah sebuah kelompok keagamaan yang menganggap dirinya sebagai bagian dari Islam, meskipun banyak kelompok muslim “mainstream” mengatakan bahwa mereka tidak mengikuti sistem kepercayaan agama Islam yang diterima.

Massa mengepung sebuah rumah di mana setidaknya terdapat 18 anggota Ahmadiyah tengah berkumpul dan menuntut mereka untuk membubarkan diri.

Dalam penyerang itu, tiga anggota Ahmadiyah yang diidentifikasi sebagai Roni, Tarno dan Mulyadi dilaporkan tewas. Sementara satu orang lagi bernama Deden, pada Selasa (8/2), dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Massa juga menghancurkan rumah, serta kendaraan yang diparkir di sekitarnya.

Amnesti Internasional mendokumentasikan banyak kasus intimidasi dan kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah oleh kelompok-kelompok Islam radikal di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Donna Guest, intimidasi dan kekerasan itu termasuk serangan dan pembakaran tempat ibadah Ahmadiyah dan rumah tinggal, yang menyebabkan mereka hidup berpindah pindah.

Dalam kebanyakan kasus, mereka yang melakukan tindakan kekerasan terhadap Ahmadiyah tidak dihukum dan ada kecenderungan oleh otoritas untuk menyalahkan minoritas untuk “pandangan sesat” ketika serangan terjadi.

Pelecehan dan serangan terhadap komunitas Ahmadiyah juga didorong oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri pada 2008 terkait keberadaan Ahmadiyah.

Amnesti Internasional meminta pemerintah untuk membatalkan semua hukum dan peraturan yang membatasi hak untuk kebebasan beragama sebagaimana dijamin dalam Pasal 18 dari Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) dan memulai penyelidikan independen dan tidak memihak dalam semua kasus intimidasi dan kekerasan terhadap minoritas agama di Indonesia.

Amnesti Internasional juga menyerukan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk menyelidiki tuduhan bahwa polisi tidak mengambil langkah-langkah yang memadai untuk melindungi pengikut Ahmadiyah yang berkumpul, dan tidak mencegah serangan pada Minggu (6/2) tersebut.

“Indonesia harus mengembangkan strategi konkret untuk memperkuat penghormatan terhadap kebebasan beragama dan toleransi beragama, yang jelas memburuk dalam beberapa tahun terakhir,” demikian Donna Guest.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: