Beranda > Ahmadiyah, Buah Ketidak Tegasan Pemerintah > Kasus Cikeusik Tidak Berdiri Sendiri

Kasus Cikeusik Tidak Berdiri Sendiri

AHMADIYAH

Senin, 07 Februari 2011 , 16:25:00 WIB

Laporan: Kristian Ginting

 

ILUSTRASI

RMOL. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhada Perempuan mengutuk penyerangan dan pembunuhan terhadap Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten kemarin. Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah berpendapat, tragedi itu tidak berdiri sendiri.

“Kejadian itu merupakan bagian dari rangkaian panjang. Tercatat setidaknya ada 342 kali serangan terhadap komunitas Ahmadiyah dalam rentang tahun 2007 – 2010,” ujar Yunianti di kantor Komnas Perempuan, Jalan Latuharhari, Jakarta, Senin (7/2).

Ratusan kekerasan tersebut selalu atas nama agama terhadap kelompok minoritas.  Dalam catatan Komnas, kaum perempuan dan anak sering mendapat ancaman dan intimidasi dari kelompok yang melakukan kekerasan itu.

“Kekerasan yang berantai ini harus dihentikan,” tegasnya.[ald]

  1. Februari 8, 2011 pukul 5:25 pm

    Setiap kali persoalan Ahmadiyah “pecah”, para pengamat atau para tokoh lantas lantang berkoar tentang HAM. Bila sudah begini, secara politis Ahmadiyah sering diuntungkan. Padahal inti persoalan adalah dan ini sepertinya sengaja mereka lupakan, bahwa Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sejatinya telah tidak dikeragui sebagai “perusak” Islam. Karena itu Ahmadiyah dinyatakan sebagai ajaran “Sesat Lagi Menyesatkan“.
    Dalam konteks demikian keadaan mereka persis sebagaimana firman Allah SWT, artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Mahapemurah (al-Qur-an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (QS Az-Zukhruf: 36 -37)

  2. Februari 9, 2011 pukul 4:02 am

    klo tidak akan ada lagi kekerana tentang ahmadiyah…ya harus di bubarkan…
    klo masih dipertahankan …ya akan terus bergulir….

  3. Februari 9, 2011 pukul 6:47 am

    Kita hanya sebatas menunggu, namun kita berharap semoga kejadian yang baru saja terjadi benar-benar merupakan kejadian yang tidak akan pernah lagi berulang.

  4. Februari 9, 2011 pukul 6:53 am

    betul…walau bagaimana…kekerasan bukan jalan yg baik…tp harus ada solusi agar tdk ada lagi salah tafsir

  5. Sakinah Hutagalung
    Februari 10, 2011 pukul 1:43 am

    Numapng lewat, jangan dihapus Abang sayang, ini untuk pencerahan dan agar TV One belajar, lebih bijak lagi.

    TV One ngawur dan ingin diserang? Uraian TV One pagi ini soal pengunggah video amatir kekerasan Cikeusik sangat tidak mendidik dan mengesankan TV One ingin memonopoli video. Dalam uraian itu TV One pertanyakan siapa Andreas peng-upload video di YouTube.

    Uraian juga mempertanyakan spektis apakah video tersebut dari pihak Ahmadiyah atau lawannya. Sesungguhnya semua itu tidak penting. Setiap orang berhak mengabadikan apapun melalui kamera ia punya.

    Apa maksud TV One membuat uraian tolol itu? Apa hanya TV One yang berhak? Bukankah TV One sudah nomor satu di Indonesia dan bahkan dunia? Lagi-lagi itu kedangkalan TV One, skeptis melulu dan picik. Pembuat video seperti itu jelas orang yang pandai mencium nilai berita. Itulah maka video-video amatir bernilai fakta tinggi tak terbantahkan dan dikagumi.

    TV One jangan picik lagi dalam membuat uraian. Lama-lama Anda bisa diserang orang. Kalau tak mampu bersaing dengan Metro, Anda bubar saja. Anda harusnya berpikir seperti Metro TV dan jangan skeptis ngawur.

    TV One juga bilang video sempat diblokir YouTube. YouTube tidak pernah memblokir video apapun. TV One double ngawur.

    • Februari 10, 2011 pukul 4:55 am

      Monggooo, untuk pengayaan informasi kenapa tidak.

    • Februari 10, 2011 pukul 5:00 am

      sabar…
      mereka memang bersaing untuk mendapatkan berita…

  6. Februari 10, 2011 pukul 6:51 am

    Oooo begitu toh ………………..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: