Beranda > Ahmadiyah, Buah Ketidak Tegasan Pemerintah > Kronologi Penyerangan di Cikeusik Versi Ahmadiyah

Kronologi Penyerangan di Cikeusik Versi Ahmadiyah

***)Setiap kali persoalan Ahmadiyah “pecah”, para pengamat atau para tokoh lantas lantang berkoar tentang HAM. Bila sudah begini, secara politis Ahmadiyah sering diuntungkan. Padahal inti persoalan adalah dan ini sepertinya sengaja mereka lupakan, bahwa Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sejatinya telah tidak dikeragui sebagai “perusak” Islam. Karena itu Ahmadiyah dinyatakan sebagai ajaran “Sesat Lagi Menyesatkan“.

Dalam konteks demikian keadaan mereka persis sebagaimana firman Allah SWT, artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Mahapemurah (al-Qur-an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (QS Az-Zukhruf: 36 -37)  _Izhar Ilyas_

Headline

youtube.com

Oleh: R Ferdian Andi R
Nasional – Selasa, 8 Februari 2011 | 11:59 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Humas Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mubarik Ahmad, membeberkan kronologi penyerangan yang dilakukan warga di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Minggu (6/2/2011).

Mubarik menjelaskan kronologi penyerangan melalui akun twitter miliknya, Selasa (8/2/2011).

Minggu dini hari sekitar pukul 02:30, kami berangkat dari Serang, perjalanan lumayan jauh, dengan jalan yang sangat rusak. Saya berada di mobil APV, yang disopiri Chandra.

Kami tiba di Cikeusik sekitar jam 7 pagi, kami rebahan disuguhin sarapan. Tiba-tiba sekitar jam 9 atau setengah 10 ada polisi. Awalnya, polisi lumayan banyak tapi nggak tahu kenapa, mereka (polisi) pergi lagi.

Sekitar jam 10, tiba-tiba massa datang langsung menyerang,tidak ada dialog atau mediasi. Mereka langsung mengacungkan senjata tajam, dan menghujani kami dengan batu. Kami mencoba meredam tapi dengan ganasnya mereka terus menyerang, dan kami pun bertahan sebisa mungkin dengan peralatan seadanya.

Saya juga ikut bertahan,tapi ahkirnya kami mundur karena banyaknya massa. Saya terkena lemparan batu tiga kali di kepala, satu di kaki kanan.

Saya bersembunyi di sungai, di pinggir semak-semak. Disana, saya mendengar suara sodara kita sedang merintih kesakitan, sedang dihajar beberapa orang.

Ada satu warga yang coba untuk menolong, tapi mereka dengan ganasnya terus menghajar sambil meneriakan kata-kata “modar dia ku aing”.

Sodara kita disuruh berenang, tapi kayaknya nggak bisa berenang, akhirnya ditarik ke tengah sungai, diselamatkan warga tetangga rumah.

Anggota kami yang tidak melawanpun terus menerus jadi amukan maasa yang menyerang. Setelah saya keluar dari persembunyian, saya istirahat di sebuah gubuk tengah sawah, tiba-tiba ada seorang pemuda, yang ternyata Mulyadi.

Alhamdulillah selamat, setelah Mulyadi pergi, saya dibawa oleh seseorang ke rumahnya yang letak rumahnya persis di seberang tempat kejadian. Dari rumah itu saya melihat dengan mata kepala sendiri, orang-orang yang menyerang tersebut.

Sambil pulang para penyerang bersalaman dengan polisi yang ada disana sambil tersenyum. Pagi-pagi sekali saya pulang ke serang naik angkutan umum. [bar]

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: