Beranda > Kerusuhan Temanggung > Lima Orang Jadi Tersangka Kerusuhan di Temanggung

Lima Orang Jadi Tersangka Kerusuhan di Temanggung

08 Februari 2011 | 23:09 wib
Terkait Penistaan Agama

Temanggung, CyberNews. Lima orang untuk sementara ditetapkan menjadi tersangka pihak kepolisian sebagai pelaku kerusuhan dan perusakan Kantor Polres serta gereja-gereja di kota Temanggung, Selasa (8/2). Jumlah tersangka tersebut masih bisa bertambah lagi, dan aparat polisi berjanji akan  mengusut secara tuntas peristiwa yang dinilainya sangat meresahkan masyarakat itu.

”Jumlah tersangka kasus tersebut bisa bertambah lagi, untuk sementara ini, kami dilapori sebanyak 5 orang (yang menjadi tersangka, red),” tandas Kapolda Irjen Edward Aritonang, dalam jumpa pers di Polres Temanggung, terkait dengan terjadinya peristiwa kerusahan tersebut, sore tadi.

Kapolda belum bisa menyebutkan identitas kelima tersangka itu, hanya saja menurutnya, para pelaku bukan berasal dari warga Temanggung kota. Dia juga mengatakan, diantara massa yang datang menyaksikan persidangan kasus penistaan agama dan selanjutnya melakukan perusakan itu, semula tidak berkeinginan berbuat seperti itu.

”Diantaranya, ada yang datang karena dikirimi SMS atau pesan singkat dari Saudaranya untuk  mengikuti kegiatan dakwah, namun setelah berkumpul ternyata untuk menyaksikan persidangan dan melakukan perusakan itu,” ujarnya.

Dia mengatakan pula, pihaknya akan mendalami, apakah kerusuhan dan perusakan tersebut dilakukan para pelakunya secara spontan atau karena ada yang menghasutnya. Sebab, sejak awal, sebenarnya perkara yang disidangkan di Pengadilan Negeri Temanggung ini bukanlah kasus pertentangan agama, namun penodaan agama.

”Dan, yang merasa dinodai bukan hanya pemeluk agama Islam, tetapi penganut agama Kristen pun juga merasakannya,” tutur dia.

Diungkapkannya, pihaknya sebetulnya telah menerjunkan aparat dalam jumlah yang tidak sedikit, yang berasal dari Polda Jateng, Polres Temanggung dan kabupaten tetangga, serta dari Kodam IV Diponegoro dan Kodim. Namun begitu, aparat tersebut, ditujukan untuk mengamankan jalannya persidangan, dan telah berhasil.

”Tugas yang diemban bisa berjalan dengan baik, sehingga perangkat peradilan aman dan sidang berlangsung hingga selesai,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah massa bisa dikendalaikan selama persidangan di pengadilan, kemudian mereka bergerak ke kota dan merusak gereja-gereja, yang hanya dijaga  sedikit aparat keamanan. Untuk mengamankan gereja-gereja itu, tentu di luar jangkauan aparat keamanan yang menjaganya, karena aparat lebih dikonsentrasikan menjaga pengadilan, kantor-kantor serta tempat-tempat umum.

Sebarkan Stensilan

Kapolda sebelumnya, juga menjelaskan kronologis peristiwa yang melatarbelakangi kerusuhan tersebut. Yakni, mulai terdakwa Antonius Richmond Bawengan (50), mengedarkan dokumen stensilan yang isinya penistaan agama tersebut pada 23 Oktober di Kecamatan Kranggan, kemudian diproses hukum oleh polisi hingga dijatuhkan vonis pengadilan.

”Peradilan sudah berjalan dengan baik, bahkan hakim memutuskan hukuman paling berat 5 tahun, namun massa tidak menerimanya, dan tetap menuntut hukuman mati. Karena tidak puas, lalu mereka melakukan perusakan tersebut,” ujarnya.

Ketua PN Temanggung, Dwi Dayanto mengatakan, proses vonis kepada tersangka dipercepat, selain karena perkaranya sebetulnya ringan namun sensitif, juga melihat kondisi sosiologis massa setiap persidangan. Dirinya, juga telah berupaya memutuskan dengan adil sesuai dengan koridor hukum yang berlaku di Indonesia.

”Undang-undang yang berlaku memang menentukan sanksi seberat-beratnya adalah 5 tahun tersebut. Jika, masyarakat menghendaki lebih dari itu, perlu dilakukan perubahan terhadap ketentuan yang ada,” imbuhnya.

Sedangkan KH Sihabudin, tokoh agama dari Kecamatan Tretep, mengungkapkan, dirinya akan menuntut polisi untuk bertanggungjawab atas perlakuan mereka yang mengakibatkan beberapa warga terluka. Pihaknya, juga tidak setuju dengan vonis hakim, dan tetap menuntut hukuman mati.

”Yang bergerak ini adalah umat Islam, namun dilimpahkan kepada kami,” kata dia.

Kapolda mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam kerusuhan tersebut, namun hanya ada 9 orang yang luka-luka dan dirawat di RSUD Temanggung. Pihaknya, juga telah menjalankan pengamanan seusai dengan prosedur.

( Henry Sofyan / CN27 / JBSM )

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: