Beranda > Kerusuhan Temanggung > Terdakwa Penistaan Agama Dituntut 5 Tahun, Massa Gulingkan Truk Polisi Temanggung

Terdakwa Penistaan Agama Dituntut 5 Tahun, Massa Gulingkan Truk Polisi Temanggung

Selasa, 08/02/2011 11:39 WIB

Chazizah Gusnita – detikNews


Jakarta – Kerusuhan bernuansa SARA juga meletup di Temanggung, Jawa Tengah. Massa yang tak puas terhadap tuntutan 5 tahun terhadap Antonius Richmond Bawengan, terdakwa penistaan agama di Pengadilan Negeri Temanggung, mengamuk. Massa menilai vonis ini terlalu ringan.

“Ada pengadilan penodaan agama divonis hari ini. Vonisnya sudah maksimum sesuai tuntutan jaksa yakni 5 tahun. Tapi massa menghendaki hukuman mati. Massa marah,” kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Edward Aritonang saat dihubungi detikcom, Selasa (8/2/2011). Meskipun Edward menyebutkan vonis, namun agenda sidang yang betul adalah tuntutan.

Edward mengatakan, massa kemudian menggulingkan sebuah truk Polri dari kesatuan Dalmas yang ada di sekitar pengadilan. Polisi mencoba menghadapi massa secara persuasif karena kasus ini menyangkut agama.

“Siapa pun ya marah kalau soal agama. Tapi kita coba memahami. Hakim juga sudah memvonis maksimum,” ujarnya.

Polisi sudah mengevakuasi terdakwa ke Semarang. Menurut Edward, situasi di pengadilan sudah mulai kondusif. “Kejadiannya tadi pukul 10.00 WIB, sekarang sudah mulai kondusif. Saya lagi di jalan menuju lokasi,” ungkap Edward yang berkedudukan di Semarang ini.

Sidang kasus ini selalu dihadiri pengunjung dari berbagai ormas dan sering terjadi kericuhan. Menyitir Media Indonesia Online edisi Kamis, 20 Januari 2011, kasus yang menjerat warga asal Manado ini terjadi pada 3 Oktober 2010. Ketika itu Antonius yang menggunakan KTP berdomisili di Kebon Jeruk, Jakarta menginap di tempat saudaranya di Dusun Kenalan, Desa/Kecamatan Kranggan, Temanggung.

Sedianya ia hanya semalam di tempat itu untuk melanjutkan pergi ke Magelang. Namun waktu sehari tersebut digunakan untuk membagikan buku dan selebaran berisi tulisan yang dianggap menghina umat Islam. Karenanya, sejak 26 Oktober 2010, ia ditahan.

Dalam selebaran dan buku itu antara lain ditulis dinding Kabah yang terpasang  hajar aswad merupakan kelamin wanita. Tempat pelemparan jumroh yang merupakan bangunan setengah lingkaran itu disebut terdakwa berkelamin laki-laki. Selain itu, terdakwa menggambarkan wajah Islam sebagi bengis dan kejam. Tulisan ini memancing emosi umat Islam. (gus/nrl)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: