Beranda > Ahmadiyah, Sesat Lagi Menyesatkan > Majelis Pengasuh Pesantren Tolak Kekerasan

Majelis Pengasuh Pesantren Tolak Kekerasan

Republika

Republika – Kamis, 10 Februari

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Majelis Silaturrahim Kiai Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia (MSKP3I) menyatakan menolak segala bentuk kekerasan dan meminta pemerintah bertindak tegas terhadap pelaku kekerasan. “Semua pimpinan dan pengasuh pesantren tidak menghalalkan tindak kekerasan. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang memperbolehkan anarkisme,” kata Ketua Umum MSKP3I KH Nur Iskandar SQ di Jakarta, Rabu.

Dikatakannya, kekerasan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, dan pemicunya hanya terkait agama, semisal tawuran antar kampung, tawuran pendukung tim sepak bola, juga kerusuhan di ajang pertunjukan musik. “Artinya Indonesia rentan terhadap kekerasan sejak krisis multidimensi,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, dalam menangani dan mengantisipasi terjadinya kekerasan di masyarakat hendaknya tidak hanya menyentuh yang di permukaan, namun juga akar permasalahannya. Menurut Nur Iskandar, salah satu pemicu kekerasan adalah ketidakpatuhan pada hukum serta adanya frustasi sosial. “Masyarakat sudah muak dengan keadaan ini. Kenaikan harga yang hebat, musibah yang tiada henti, termasuk musibah akidah,” katanya.

Dikatakannya, di Indonesia saat ini banyak terjadi musibah akidah seiring dengan banyaknya aliran sesat, termasuk Ahmadiyah. Dikatakannya, pihaknya tidak setuju kekerasan, namun juga tidak rela jika keberadaan Ahmadiyah yang meresahkan umat Islam dibiarkan begitu saja. “Karena mereka berusaha untuk meyakinkan umat Islam bahwa mereka itu benar dan masih bagian dari Islam,” katanya.

Dikatakannya, jika santri menolak Ahmadiyah bukan berarti tidak toleran terhadap perbedaan karena terbukti dalam berhubungan dengan penganut agama lain relatif tidak ada persoalan. “Kalau berhubungan dengan Kristen, misalnya, santri-santri tidak ada masalah. Bahkan mereka hidup berdampingan dan toleransinya sangat kuat,” katanya.

Artinya, kata Nur Iskandar, keberadaan Ahmadiyah yang menistakan ajaran Islam pun merupakan sumber kekerasan. “Kami meminta kepada pemerintah agar Ahmadiyah dibubarkan, tak usah pakai agama baru. Sumber kekerasan itu berasal dari mereka yang menistakan Islam dan mengacak-acak ajaran Islam,” katanya.

Selanjutnya, kata Nur Iskandar, menjadi kewajiban bersama, terutama para ulama, untuk berjuang menyadarkan mereka yang tersesat.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: