Beranda > Indonesia Dalam Krisis Mesis > “Revolusi” Mesir: Rakyat Mesir Harus Belajar dari Indonesia

“Revolusi” Mesir: Rakyat Mesir Harus Belajar dari Indonesia

Yudas Yudas

1 jam yang lalu, dibaca 23 kali

Tak ada laut yang terbelah hari ini. Tapi di Mesir, berjuta-juta rakyat yang turun ke jalan dalam 18 hari terakhir tak ubahnya ombak di laut yang marah da bergolak. Dan beberapa jam yang lewat, ombak yang besar itu sukses menenggelamkan Husni Mubarak dalam kehinaan, seperti dulu laut menghinakan Fir’aun.

Mubarak, diktator tangan besi favorit Amerika dan Israel di Timur Tengah itu, telah kabur ke Uni Emirat Arab (sejumlah berita memberitakan), bersama istri dan sejumlah staf setianya. 30 tahun menara kekuasaannya hancur berantakan. Begitu saja. Seolah yang dia rintis selama ini, bersama Amerika dan Israel, hanyalah fatamorgana.

Sejarah bakal mengenang hari kepergian Mubarak: 11 Februari.

Hari Revolusi Mesir. Hari naas rezim yang sering menetek pada Amerika dan Israel. Di Tehran, di tanggal yang sama tepat 32 tahun yang lalu, Shah Pahlevi angkat kopor dari Iran seiring meledaknya Revolusi Islam Iran.

Di Jakarta, hari ini, beberapa menit lepas televisi mewartakan pengunduran diri Mubarak, seorang ulama muda menuliskan analisa cepat, berisi tujuh pelajaran Revolusi Mesir, di akun twitternya. “Tak ada orang waras yg bisa menyatakan bahwa Revolusi Mesir tak relevan,” kata ulama muda itu. “Revolusi Mesir memberi banyak pelajaran.”

1. Rakyat punya pola sendiri dalam bergerak, tak terdeteksi bahkan tak terprediksi.
2. Media mainstream tak lagi menguasai opini publik. Publik dapat membangun opininya sendiri.
3. Ketakutan ada batasnya. Dan ketika batas itu terlampaui, maka tak ada lagi ancaman yang bisa menakutkan.
4. Sekuat apapun diktator, sebenarnya dia sangat lemah. Dia trus berkuasa karena tanpa lawan.
5. Rakyat tak butuh pada elit untuk bergerak. Dalam kasus Mesir, rakyat mendikte gerakan, sementara elit kedodoran di belakang.
6. Kediktatoran bukan lahir di ruang kosong; ia tumbuh di tengah rakyat yg bungkam.
7. Menjatuhkan seorang diktator itu gampang dan cepat, tapi membangun sistem tandingan untk menggantinya itulah prestasi yang gemilang.

Well, masa transisi, begitu politikus, pengamat dan pejabat negara menyebutnya.

Sesuai prediksi, perkara mundurnya Mubarak hanyalah masalah waktu,  namun pertanyaan mendasarnya adalah apakah kekuasaan di Mesir akan berpindah ke tangan militer?  Sekalipun “mungkin” masih nampak ada sedikit friksi  dikalangan militer, terutama kalangan senior pensiunan dan yang aktif, tapi semuanya membuka peluang bahwa militer adalah abdi sejati  Amerika yang mengatas namakan rakyat Mesir. Baca: http://www.reuters.com/article/2011/01/29/us-egypt-usa-aid-idUSTRE70S0IN20110129

Jika kekuasaan di Mesir berpindah ke tangan berdarah-darah seperti Omar Suleiman dan atau Perdana Menteri Ahmad Shafiq, maka sejatinya Mubarak masih tetap berkuasa. Dan itu berarti scenario tetap berjalan mulus.  U.S. Wins in Egypt Democracy.

Pertanyaan mendasar lagi adalah: “Apakah ini sebenarnya yang diinginkan rakyat Mesir?”

Rakyat  Mesir tidak boleh tertipu oleh permainan cantik tangan-tangan di Pentagon. Rakyat Mesir harus belajar dari apa yang terjadi di Indonesia saat menggulingkan rejim Soeharto.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: