Beranda > Ahmadiyah, Solusi Permasalahan > Bukan SKB, Tapi Hadirkan Agama & Negara

Bukan SKB, Tapi Hadirkan Agama & Negara

Ahmad Fadli
Senin, 14 Februari 2011 – 16:08 wib

Pertemuan SBY dan Tokoh Lintas Agama (Ist)

JAKARTA – Kekerasan demi kekerasan yang mengatasnamakan agama terus terjadi, bahkan tiap tahun angkanya mengalami peningkatan.

Salah satu kekerasan berlatar agama paling anyar  dan tragis adalah bentrokan ribuan warga dengan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang, Banten 6 Desember 2011 lalu. Tiga jamaah dari ajaran yang dianggap menyimpang dari Islam ini meregang nyama akibat dihakimi massa yang marah.

Namun jauh sebelum kasus ini terjadi, kakerasan bertopeng agama ini ibarat sinetron saja. Episode bersambung dari konflik antarumat manusia ini terus disajikan media massa dari berbagai daerah di Indonesia.

Konflik yang melibatkan khususnya Ahmadiyah ini menunjukan tidak ada tajinya kebijakan pemerintah dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri. SKB ini diacuhkan Ahmadiyah. Sekalipun pemerintah sudah mengeluarkan SKB, tidak lantas membuat keberadaan Ahmadiyah terhenti, faktanya kegiatan Ahmadiyah masih ada setelah SKB dikeluarkan.

Keberadaan SKB terus menjadi polemik dan dipermasalahkan banyak pihak. Ada SKB tapi seakan tidak bermakna. Ahmadiyah masih dengan leluasa menyebarkan pengaruh di Indonesia. Ini juga menunjukkan bahwa hitam di atas putih dari SKB seakan hanya sebuah rangkaian kata-kata yang tak bermakna.

Dalam rapat kerja Komisi VIII DPR dengan Menteri Agama dan Polri beberapa hari lalu, menyimpulkan bahwa SKB tiga menteri tidak berjalan sebagai mana mestinya dan kurang sosialiasi kepada masyarakat. Bahkan ada masyarakat yang tidak tahu-menau adanya SKB tersebut.

Pascaperistiwa berdarah tersebut banyak kalangan yang memberikan solusi tidak lagi pada persoalan SKB-nya, tetapi kepada solusi akhir. Bubarkan Ahmadiyah atau Ahmadiyah menjadi agama baru. Hal ini disampaikan anggota Komisi VIII DPR Hazrul Azwar kepada Okezone di ruanganya beberapa saat yang lalu. “Solusi akhir, ya satu kata aja, bubarkan Ahmadiyah,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan anggota dewan dari Fraksi PDI Perjuangan, Zainun Ahmadi. “Bola sekarang ada di pemerintah, mau ambil kewenangan membubarkan atau mengganti (Ahmadiyah) dengan agama baru,” tuturnya.

Konflik bertopeng agama ini bukan hanya Ahmadiyah semata yang membuat keruyaman di internal kehidupan umat Islam. Namun konflik SARA lainnya masih berpotensi besar terjadi di Indonesia. Kekerasan atas nama agama ini akan tumbuh subur jika pendekatan yang dilakukan sebatas penegakan hukum yang masih serampangan.

Belajar dari banyak kasus di atas, maka seyogianya agama hadir sebagai solusi bukan menjadi sumber masalah. Dalam Alquran Surat Al-maidah Ayat 8, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ajaran agama juga memberikan pedoman bagi setiap penganutnya untuk menyebarkan benih cinta-kasih terhadap semua orang tanpa memandang perbedaan warna kulit, rambut, bahasa, agama dan keyakinan. Dengan pemahaman agama yang benar, akan muncul rasa toleransi antarsesama.

Toleransi juga dipandang sebagai alat yang sangat efektif dalam meminimalisir konflik. Toleransi dalam konteks sosial, budaya, dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat.

Satu hal yang tak kalah penting adalah kehadiran negara sebagai penengah dalam konflik berlatar agama. Ibarat dalam sebuh pertandingan, negara tampil fair sebagai wasit bukan menjadi aktor intelektual yang membuat skenario konflik. Posisi negara harus kuat dan adil, tidak memihak satu kepentingan. Negara harus menjadi bagian dari resolusi konflik.

Share

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: