Beranda > Ahmadiyah, Solusi Permasalahan > Menyoal kekerasan

Menyoal kekerasan

Tuesday, 15 February 2011 06:13 PDF Print E-mail
Opini

RAMLI

Hari-hari belakangan ini media massa kita mengambil porsi soal kekerasan terkait agama sebagai “berita besar”. Sebelumnya saya telah mengulas sedikit tentang Agenda Setting Media; betapa suatu peristiwa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting juga oleh khalayak. Bahwa suatu peristiwa yang dikonstruksi menjadi berita sejatinya tidak pernah berdiri sendiri, tanpa ada variabel lain yang mempengaruhinya.

Isu utama yang diusung dalam porsi kekerasan ini adalah tentang apa yang disebut dengan “kekerasan atas nama agama”. Sepertinya agama (dalam hal ini Islam) hendak didekatkan dengan stigma “kekerasan”. Pemicunya adalah bentrokkan yang terjadi di Pandeglang, Banten yang melibatkan Ahmadiyah dan di Temanggung, Jawa Tengah yang menyangkut kasus penghinaan terhadap Islam. Dalam peristiwa ini beberapa bangunan gereja rusak, dan tiga nyawa melayang. Dari besaran korban yang berjatuhan serta kerusakan yang ditimbulkan, sepertinya stigma “kekerasan atas nama agama” itu menemukan jalannya. Tapi selalu saja, hal-hal seperti ini tidak pernah lepas dari meninggalkan jejak. Berbagai keganjilan terlihat yang semakin mengukuhkan adanya setting untuk tujuan tertentu.

Tidak tanggung-tanggung, kabarnya dua peristiwa kali ini mendapat reaksi dunia internasional. Amnesty Internasional, sebuah organisasi internasional yang memperjuangkan hak azasi manusia, meminta pemerintah Indonesia untuk menyelidiki pelaku yang menyebabkan tewasnya warga Ahmadiyah maupun kerusuhan di tempat ibadah.

Tidak ketinggalan Amerika Serika secara khusus memberikan komentarnya tentang kedua peristiwa tersebut. Juru bicara Deplu AS, Philip J. Crowley dalam pernyataan pers di Washington DC, 9 Pebruari 2011 mengatakan, Amerika Serikat sangat prihatin terhadap kekerasan massa di Indonesia yang ditujukan kepada para anggota Ahmadiyah hingga menyebabkan tiga orang meninggal dan sejumlah orang lainnya luka-luka. AS juga mengamati dengan rasa prihatin terjadinya pembakaran gereja di Jawa Tengah tersebut. Deplu AS menyiratkan harapan agar Indonesia benar-benar dapat menegakkan hukum dengan mengadili para pelaku kekerasan tersebut.

Teori kekerasan
Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan suatu perilaku, baik terbuka, tertutup, menyerang maupun bertahan yang disertai penggunaan kekuatan terhadap orang lain. Kekerasan terbuka adalah kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian. Kekerasan tertutup adalah kekerasan yang tidak secara langsung, seperti mengancam. Kekerasan agresif adalah kekerasan yang dilakukan tidak untuk perlindungan, dilakukan untuk mendapatkan sesuatu. Kekerasan defensif adalah kekerasan yang dilakukan untuk perlindungan diri.

Dalam sosiologi kekerasan dikenal apa yang disebut teori faktor kelompok yang merupakan bagian dari teori kekerasan. Kekerasan semacam ini dipengaruhi individu-individu yang memiliki kecenderungan membentuk kelompok dengan mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras, agama atau etnik. Identitas ini dibawa ketika seseorang berinteraksi dan benturan antar identitas antar kelompok berbeda sering menjadi penyebab kekerasan.

Dalam teori lain yang disebut teori dinamika kelompok disebutkan bahwa kekerasan timbul karena adanya deprivasi relative yang terjadi dalam kelompok. Artinya, perubahan sosial tidak mampu ditanggap dengan seimbang oleh sistim sosial dan masyarakat.

Adalah kekerasan yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang dilakukan secara bersama-sama. Menurut Le Bon, kekerasan kolektif ini berkaitan dengan irasionalitas, emosionalitas dan peniruan individu yang lepas dari pembatasan sosial suatu organisasi sosial. Individu-individu yang berada dalam suatu kelompok/crowd dianggap saling meniru, sehingga saling memperkuat dan memperbesar emosionalitas dan irasionalitas sesamanya.

Teori baru tentang kekerasan kolektif ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kekerasan kolektif muncul dari situasi kongkrit  yang sebelumnya didahului oleh sharing gagasan, nilai, tujuan dan masalah bersama dalam kurun waktu yang lebih lama. Masalah bersama merupakan faktor yang paling penting dan bisa melibatkan perasaan akan bahaya. Oleh Ted Robert Gurr dikatakan bahwa individu yang memberontak sebelumnya harus memiliki latar belakang situasi, seperti rasa ketidakadilan, kemarahan moral dan kemudian memberikan respon terhadap sumber penyebab kemarahan tersebut.

Menurut Lewis A.Coser, konflik merupakan peristiwa normal yang dapat memperkuat struktur hubungan sosial. Apabila dalam masyarakat tidak ada konflik, belum berarti merupakan indikasi adanya kekuatan dan stabilitas hubungan sosial masyarakatnya.

Karena menurutnya, konflik itu ternyata ada dampak positifnya yakni memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih perlu ditelaah; Memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai dan hubungan sosial dalam kelompok sesuai kebutuhan individu atau kelompok;

Konflik juga menjadi jalan mengurangi ketegangan antar individu dan antar kelompok; Menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru; Sebgai sarana mencapai keseimbangan antara kekuatan dalam masyarakat; Meningkatkan solidaritas sesama anggota masyarakat.

Kenyataannya ada juga orang-orang yang beranggapan bahwa konflik itu perlu dalam suatu masyarakat. Kira-kira seperti apa yang dipikrian Lewis A.Coser yang diuraikan di atas. Mereka mendesain konflik untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

Masalah agama
Kenyataannya kasus yang terkait Ahmadiyah bukan semata-mata masalah kekerasan. Tapi lebih dari itu adalah persoalan penistaan atau perongrongan terhadap eksistensi agama Islam. Sama halnya dengan peristiwa di kerusuhan di Temanggung yang sarat dengan berbagai peristiwa yang terjadi sebelumnya. Artinya kedua peristiwa ini tidak berdiri sendiri, polos begitu saja. Namun banyak sekali masalah yang mendorongnya untuk terjadi.

Dalam bahasa lain, ada faktor prokatif yang menginginkan kerusuhan itu terjadi. Simbol-simbol kelompok yang diuraikan dalam teori kekerasan di atas adalah hal yang menjadi bidikan subjek peristiwa ini. Disebut subjek, karena mereka yang bertikai di lapangan tidak lain adalah orang-orang yang menjadi objek peristiwa tersebut, yang seringkali tidak menyadari sepenuhnya arah dari perilaku kekerasan tersebut. Dan dalam hal ini identitas yang dikedepankan dalam konflik adalah agama, yakni Islam.

Dalam masalah Ahmadiyah misalnya, kasus ini bukan sebuah perbedaan tafsir dalam hal agama Islam. Karena Ahmadiyah sudah mengubah akidah dalam Rukun Iman karena Ahmadiyah mengakui ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Padahal akidah agama Islam menyatakan tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhamamd SAW.

Meletakkan aliran Ahmadiyah bukan sebagai Islam dan meletakkan pengikut Ahmadiyah bukan sebagai seorang Islam adalah kesepakatan dunia Islam melalui tiga organisasi internasionalnya. Yaitu merupakan keputusan Rabithah Alam Islami, Muktamar Alam Islami dan Konfrensi Negara-Negara Islam (OKI). Tapi dengan didukung berbagai organisasi, sepertinya Ahmadiyah semakin berani melakukan provokasi.

Penutup
Pertanyaan mendasar adalah, kalau ditanya, semua akan sepakat menginginkan perdamaian dan kerukunan hidup bersama. Namun nyatanya masih saja ada pihak-pihak yang melakukan provokasi dan memancing-mancing timbulnya kekerasan. Alat utama yang digunakan adalam agama. Celakanya, media massa dengan sangat mudah masuk dalam perangkap pembentukkan stigma “kekerasan atas nama agama” yang diusung.

Penulis adalah Mantan Wakil Walikota Medan
(dat02)
Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: