Beranda > Seputar Istana > Dipo Alam Minta Media Berimbang

Dipo Alam Minta Media Berimbang

Antara 

Antara – 3 jam 1 menit lalu

Jakarta (ANTARA) – Sekretaris Kabinet Dipo Alam meminta media massa untuk berimbang dalam melakukan pemberitaan, tidak tendensius dan tidak menyebarkan kebencian dan ketakutan.

“Media massa sebagai salah satu pemangku kekuasaan. Tolong gunakan kekuasaan itu secara berimbang dan tidak tendensius dan terus menerus menyebarkan kebencian,” kata Dipo Alam kepada ANTARA, di Jakarta, Selasa, mengenai pernyataan meminta instansi pemerintah memboikot, antara lain dalam bentuk iklan dan tidak hadir jika diundang, terhadap media massa yang tidak berimbang (menjelek-jelekkan) dan tendesius dalam melakukan pemberitaan.

Dipo mengatakan bahwa pernyataannya tersebut benar dan dia siap memberikan keterangan kepada Dewan Pers jika diminta.

Namun, katanya, media yang seperti itu hanya sedikit dan secara umum masih berimbang.

Mengenai pemberitaan yang tidak berimbang dan tendensius, Dipo antara lain memberi contoh saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke NTT baru-baru ini . Pada saat itu, katanya, ada sekelompok kecil, bahkan amat kecil, yang melakukan unjuk rasa. Namun dua stasiun televisi menyebutkan masyarakat NTT menolak Presiden.

“Padahal yang menyambut Presiden jauh lebih banyak. Yang demo tidak sampai 0,001 persen saja,” katanya.

Selain itu, katanya, dalam kasus kerusuhan Mbah Priok atau Ahmadiyah, media selalu menayangkan kejadian tersebut secara terus-menerus.

“Sampai-sampai cucu saya takut melihatnya. Ini tidak dipikirkan,” katanya.

Mengenai pemberitaan yang berimbang, Dipo mengingatkan bahwa publik juga perlu tahu kemajuan-kemajuan yang telah dilakukan oleh pemerintah.

Ia mengatakan, mengkritik berbeda dengan menjelek-jelekkan. Dipo mengatakan bahwa ia tidak antikritik dan tidak otoriter.

“Saya bukan antikritik. Tapi minta pemberitaan berimbang,” katanya.

Dipo mengatakan, pemberitaan yang menjelek-jelekkan tersebut tendesius.

“Jika terus-terusan menjelek-jelekkan buat apa. Buat apa juga pasang iklan (di media yang menjelek-jelekkan),” katanya.

Ia mengatakan, jika media tersebut memiliki tendesi tertentu, ia juga meminta pejabat tidak perlu datang jika diundang karena akan percuma.

Sekali lagi Dipo mengatakan bahwa ia tidak antikritik dan tidak alergi kritik. Namun ia juga meminta media massa tidak antikritik. Dipo sekali lagi meminta media massa berimbang.

“Tapi baru bilang boikot, saya dibilang otoriter. Saya tidak bredel” katanya.

Dipo mengatakan bahwa ia pernah mengkritik Pak Harto namun dia tidak pernah menjelek-jelekkan. Terhadap penyataannya, Dipo mengatakan bahwa itu risiko politik dan siap menghadapinya.

Kategori:Seputar Istana
  1. BLEGEDES
    Februari 28, 2011 pukul 9:20 am

    Wedus pengen dadi tukang sinetron…

    • Februari 28, 2011 pukul 9:54 am

      Ma’af…. maksudnya apa bro???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: