Beranda > Seputar Istana > Dipo: Gagak Hitam Jangan Mainkan Kartu Ahmadiyah

Dipo: Gagak Hitam Jangan Mainkan Kartu Ahmadiyah

Antara

Antara – Minggu, 6 Maret
Dipo: Gagak Hitam Jangan Mainkan Kartu Ahmadiyah

Jakarta, 6/3 (ANTARA) – Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengingatkan tokoh lintas agama Din Syamsuddin dan Romo Benny Susetyo –yang disebutnya sebagai gagak hitam– tidak memainkan kartu kontroversi Ahmadiyah karena bisa melebar ke arah konflik horisontal. “Jangan mempolitisasi dan memperkeruh keadaan, karena hal ini berpotensi melebar ke arah konflik horisontal,” katanya di Jakarta, Minggu, mengomentari pernyataan Din Syamsuddin yang mendesak ketegasan Pemerintah Pusat soal larangan Ahmadiyah. Dipo Alam sebaliknya menganjurkan agar Din dan Romo Benny melakukan syiar atau penggembalaan kepada umatnya dalam kesejukan toleransi beragama, bukan sebaliknya mengobarkan kegaduhan kerukunan umat beragama. Tentang adanya sejumlah pemerintah daerah yang melarang kegiatan Ahmadiyah, Prof Dr Din Syamsudin mendesak ketegasan Pemerintah pusat soal larangan tersebut.

“Desakan Din Syamsudin ke Pemerintah Pusat salah alamat,” kata Dipo. Karena dari awal Pemerintah sudah menerbitkan SKB 3 Menteri untuk pengaturannya, tinggal masyarakat di daerah menjalankan dan mematuhi kesepakatan dalam SKB 3 Menteri tersebut. Dipo Alam mengajak semua pihak agar konsekuen menjalankan kesepakatan SKB 3 Menteri soal kontroversi Ahmadiyah.

Ia menilai upaya meredakan konflik kekerasan antar umat Islam dan warga Ahmadiyah dapat dicegah oleh pimpinan Pemerintah Daerah di tingkat provinsi, kabupaten, walikota dan kecamatan sampai ke kepala desa.

“Karena merekalah yang paling tahu keadaan dan bertangunga jawab terhadap kerukunan warganya,” kata aktivis mahasiswa tahun 1975 itu. Menjawab pertanyaan mengenai tokoh lintas agama yang liberal “membela” warga Ahmadiyah, misalnya kegigihan Romo Benny Susetyo yang terang-terangan mendukung Ahmadiyah, Dipo mengingatkan agar kelompok gagak hitam berbulu merpati putih –yang mengaku gerakan moral tapi sebenarnya gerakan politik– tidak memperkeruh keadaan. “Romo Benny jangan mencampuri urusan internal umat Islam,” tegas Dipo seraya menganjurkan agar tokoh lintas agama ekslusif dari KWI itu melakukan syiar atau penggembalaan kepada umatnya dalam kesejukan toleransi beragama, bukan sebaliknya mengobarkan kegaduhan kerukunan umat beragama.

Mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia itu mensinyalir gerakan Romo Benny dan tokoh-tokoh lintas agama yang berpolitik dengan memojokkan pemerintah “ingkar konstitusi dan melakukan kebohongan publik” berpotensi menciptakan konflik horizontal antar agama.

“Soal ini akan saya tanyakan ke Uskup Suharyo bila ada kesempatan jumpa. Saya akan sampaikan agar hati-hati dan KWI tidak perlu ikut-ikutan permainan politik tokoh lintas agama eksklusif yang dimotori oleh Din Syamsuddin, karena dari delapan tokoh lintas-agama eksklusif ada tiga tokoh KWI aktif ikutan,” demikian Dipo Alam.

Minta pemerintah tegas

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin meminta agar pemerintah dapat bersikap tegas dalam menangani masalah polemik gerakan Ahmadiyah di Indonesia. “Pemerintah hendaknya dapat mengambil tindakan tegas, jangan ragu-ragu seperti sekarang, sehingga dapat menimbulkan keresahan dan membuka peluang mengambil jalan sendiri bagi sekelompok orang mengatasinya,” kata Din Syamsuddin di Palangka Raya, beberapa waktu lalu. Sedangkan Muhammadiyah, menurut Din, mempunyai sikap dasar sangat tegas pada 1933, mengenai fatwa putusan majelis tarjih, yang menegaskan barang siapa baik perorangan atau kelompok yang menyakini ada nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW, maka tergolong kafir, karena ke luar dari lingkaran akidah Islam.

Namun sebagaimana disiarkan sebelumnya saat menjadi keynote speaker dalam sebuah diskusi, Din Syamsuddin mengatakan Muhammadiyah tidak mau ikut dalam gerakan pembubaran Ahmadiyah.

“Bagi kami, lebih baik mensosialisasikan kepada umat, agar tidak terpengaruh dengan keyakinan adanya nabi setelah Nabi Muhammad Saw,” ujar Din. Noval, seorang warga Muhammadiyah, pada diskusi itu mempertanyakan mengapa Din Syamsuddin tidak menyerukan agar Ahmadiyah dibubarkan.

“Beginilah jadinya kalau para pemuka agama masuk ke dunia politik. Apa sih susahnya mengatakan bubarkan Ahmadiyah. Toh warga Muhammadiyah di bawah juga menghendaki agar Ahmadiyah dibubarkan kok. Jelas-jelas, Ahmadiyah itu sesat,” kata Noval.

Kategori:Seputar Istana
  1. Maret 7, 2011 pukul 6:18 am

    bubarkan saja ahmadiyah…

  2. Maret 7, 2011 pukul 6:30 am

    Rasanya sudah “berton-ton” kata atau ucapan serupa dan atau senada dengan itu keluar ……….

  3. Maret 7, 2011 pukul 6:40 am

    smoga dengan “berton-ton” Allah melunakkan hati para petinggi ini untuk “membubarkan” ahmadiyah…
    amiinn…

  4. Maret 7, 2011 pukul 9:25 am

    Semoga ……….. (Baaa kaba Qo kiniko) Semoga Qo sehaik wal’afiat…………..

  5. Maret 7, 2011 pukul 9:30 am

    alhamdulillah baek pak…
    smoga bapak jg ya…sehat2 selalu

  6. Maret 7, 2011 pukul 10:19 am

    Alhamdulillah baik…………. Syukran!!!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: