Beranda > Tokoh > Ilham Habibie, Dari Sayap Pesawat Hingga ICMI

Ilham Habibie, Dari Sayap Pesawat Hingga ICMI

Senin, 07/03/2011 12:28 WIB

Nurvita Indarini – detikNews

Ilham Habibie, Dari Sayap Pesawat Hingga ICMI

Jakarta – Bekerja di perusahaan dunia sekelas Boeing, tidak membuat Ilham Habibie puas. Dia ingin mendedikasikan kemampuan yang dimiliki untuk Tanah Airnya. Itulah yang membuat putra Presiden RI ke-3 BJ Habibie ini memilih kembali ke Indonesia.

Di Boeing, Ilham menjadi salah satu desainer sayap pesawat berjenis 737. Tapi Ilham tidak lama bekerja, hanya dari tahun 1994 hingga 1996. Setelah itu, dia pulang ke Indonesia dan bergabung dengan IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia).

“Saya 5 tahun di IPTN. Pernah menjadi asisten pimpro, juga kepala divisi. Lalu pada 2001 saya meningalkan perusahaan itu karena prospek karir di perusahaan itu sangat terbatas,” ujar Ilham saat berbincang dengan detikcom pada pekan lalu.

Dunia teknik penerbangan memang menjadi obsesinya sejak kecil. Namun dia kemudian memutuskan banting setir ke dunia usaha untuk menjadi wiraswastawan. Untuk memperbanyak bekal dan pengetahuannya, ayah tiga anak ini lantas melanjutkan pendidikan di bidang ini.

“Saya nggak pernah punya rencana masuk ke dunia usaha sebelumnya. Tapi kondisi lingkungan yang membuat saya akhirnya masuk ke usaha. Karena background saya insinyur, saya belajar lagi MBA pada 2001-2003,” tutur Ilham.

Kala mengambil pendidikan marketing, Ilham mengaku menjalaninya sambil berwiraswasta. Peraih PhD dengan summa cumlaude dari Technical University of Munich, Jerman ini, kini pun tercatat menduduki posisi penting di sejumlah perusahaan, misalnya saja CEO di PT ILTHABI Rekatama yang bergerak di bidang investasi dan keuangan. Ilham juga tercatat sebagai Presiden Direktur PT ILTHABI Bara Utama yang bergerak di bidang pertambangan batu bara.

Ilham memang gemar belajar dan mencoba hal-hal baru. Karena itu pula, dia tidak canggung menduduki kursi penting Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ilham dipercaya sebagai ketua presidium untuk tahun pertama kepengurusan ICMI hasil muktamar ke-5 di Bogor akhir tahun 2010 lalu.

“Saya sebelumnya juga aktif di lembaga non-profit seperti The Habibie Center, Kadin, ICMI juga dari tahun 1992 dengan duduk di Organisasi Satuan (Orsat) ICMI, lalu pada 2008-2009 di Dewan Pakar ICMI,” terang putra sulung BJ Habibie ini.

Ilham adalah sosok yang sangat menggemari buku. Dia suka membaca buku tentang bisnis, fiksi dan filsafat. Buku yang belum lama ditamatkannya adalah buku karya Edward de Bono yang menulis buku Six Thinking Hats.

“Saya juga banyak baca novel. Novel yang saya baca dengan lengkap antara lain karya Dan Brown dan juga Umberto Eco saya suka,” ucap pria yang lebih dari tiga dekade tinggal di Jerman ini.

Kegiatannya yang padat memang membuat Ilham tidak punya banyak waktu untuk membaca buku-buku kesukaannya. Kegemaran membaca pria yang hobi menyantap bakso dan seafood ini pun disalurkannya saat malam hari.

“Saya kalau baca cepat, dan biasanya saya baca kalau mau tidur,” ucap Ilham.

Karena seabrek kegiatan yang dimilikinya, tentu Ilham tidak punya banyak waktu untuk keluarganya. Tapi untungnya ketiga anaknya tidak mengkomplain kesibukan sang ayah.

“Semua punya kegiatan masing-masing, jadi pada sibuk sendiri. Tapi kalau pagi saya pasti ketemu keluarga, mengobrol,” sambung penyuka karya-karya Pramudya Ananta Toer ini.

Menurut dia, untuk menjadi seseorang yang berhasil di bidangnya diperlukan kefokusan. Selain itu, harus realistis dan fleksibel dalam menghadapi situasi. Menurutnya kedua hal ini penting karena sering kali rencana tidak berjalan sesuai kenyataan. Hal yang tidak kalah penting untuk sukses bagi Ilham adalah disiplin.

“Dalam hidup, yang namanya keberuntungan itu adalah saat persiapan bertemu dengan kesempatan,” ucap Ilham mengutip ucapan filsuf asal Romawi, Seneca.

Ilham Habibie lahir dari pasangan BJ Habibie dan Ainun Besari. Dia lahir pada 16 Mei 1963 di Aachen, Jerman. Dia pernah mendapat penghargaan Satyalancana Wira Karya, yakni tanda penghargaan yang dikeluarkan dan diberikan kepada warga negara Indonesia yang telah sangat berjasa dan berbakti kepada bangsa dan negara. Ilham juga pernah mendapat penghargaan Adikarsa Pemuda pada 1997.

(vit/nrl)

Kategori:Tokoh
  1. Maret 8, 2011 pukul 3:52 am

    Sayang ya ilmuny g trpakai lg, krn IPTN yg ga berkembang…,

    • Maret 8, 2011 pukul 4:46 am

      Betul……….. potensi bangsa yang tidak “termanfa’atkan”……………..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: