Beranda > Seputar Istana > Prabowo Antara Plin-plan & Rencana Besar

Prabowo Antara Plin-plan & Rencana Besar

Senin, 07/03/2011 14:44 WIB
Otak-atik Koalisi (3)

M. Rizal – detikNews

Prabowo Antara Plin-plan & Rencana Besar

Jakarta – Sikap Partai Gerindra yang menolak Pansus Mafia Pajak menimbulkan sejumlah pertanyaan. Dugaan yang muncul parpol besutan Prabowo Subianto itu telah melakukan deal dengan SBY dan Partai Demokrat (PD). Indikasinya kini Gerindra akan masuk koalisi kabinet SBY-Boediono.

Gerindra telah mengajukan nama dan syarat untuk masuk dalam koalisi. Khusus untuk membahas koalisi itu, Prabowo mengumpulkan semua jajaran pimpinan Partai Gerindra di Hotel Bidakara, Jl Gatot Subroto, JakartaSelatan, Jum’at (4/3/2011) lalu. Gerindra memberi syarat bila masuk kabinet harus bisa mengaplikasikan ekonomi yang prorakyat seperti program Gerindra selama ini. Maka itu kemungkinan besar Gerindra mengincar posisi Menteri Pertanian dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Prabowo pun sudah melakukan pertemuan dengan utusan SBY untuk menyampaikan syarat dan nama-nama kadernya yang akan masuk kabinet. Saat ini Gerindra tengah menunggu keputusan akhir Presiden SBY. “Sekarang ini bolanya ada di Presiden SBY, kita dalam posisi menunggu apakah pandangan kita diterima atau sebaliknya. Dan Gerindra selalu siap baik di dalam atau di luar pemerintahan,” kata Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani.

Namun meskipun sudah jelas menerima tawaran masuk kabinet, Gerindra tetap membantah menolak hak angket pembentukan Pansus Mafia Pajak karena punya deal dengan SBY. Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerinda Fadli Zon menyatakan penolakan Pansus Mafia Pajak tidak ada kaitannya dengan reshuffle yang akan dilakukan SBY.

Gerindra, katanya, menolak pembentukan Pansus Mafia Pajak karena pembentukan Pansus itu dinilai hanya untuk kepentingan politik saja, bukan untuk memberantas atau penegakan hukum atas kasus suap dan korupsi perpajakan sampai keakar-akarnya. “Tidak ada pertemuan antara Pak Prabowo dan Pak SBY. Kita tidak ingin menjadi alat politik untuk bargaining dari partai tertentu yang kini bergabung dalam koalisi,” ungkap Fadli Zon kepada detikcom.

Apapun bantahan Gerindra, yang jelas saat ini faktanya Gerindra menyambut baik tawaran koalisi. Sebaliknya Partai Demokrat juga dengan senang hati menyambut bergabungnya Gerindra. “Selama ini kan kerja sama kita di parlemen dengan Gerindra dan PDIP berjalan baik,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng.

Lalu mengapa Gerindra yang selama ini kritis terhadap pemerintah berbalik arah bersedia masuk dalam pemerintahan? Prabowo dan Gerindra tentunya sudah menghitung untung ruginya. Bergabung dalam kabinet akan memberi banyak keuntungan pada Gerindra. Dengan masuk kabinet, kader Gerindra diberi kesempatan untuk membuktikan ekonomi kerakyatan yang selama ini digembar-gemborkan. Melakukan aplikasi dari konsep Gerindra dalam pemerintahan juga akan memberikan pengalaman birokrasi pada kader Gerindra.

“Jika Gerindra berhasil, ini akan meningkatkan popularitas Gerindra,” kata pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi.

Dengan memback up pemerintah, Gerindra pun bisa mendekati PD. Pendekatan ini tentu maksudnya untuk memperlancar langkah Gerindra menghadapi Pemilu 2014 mendatang. Gerindra membutuhkan dukungan dalam hal parliamentary threshold dan presidential threshold untuk Pemilu 2014. Ambang batas parliamentary threshold saat ini diusulkan hingga 5 persen dan ini sangat membahayakan Gerindra yang merupakan parpol kecil.

“Jika PT 5 persen saja, sudah jadi lonceng kematian Gerindra. Untuk Presidensial Treshold sekarang kan 20 persen, kalau bisa mempengaruhi sehingga dikurangi 10 persen itu kan peluang Prabowo terbuka. Apalagi 2014 nanti kan SBY sudah tidak bisa mencalonkan lagi,” ungkapnya.

Dengan rencana besar tersebut, Gerindra sudah pasti tidak akan mengajukan Prabowo untuk menduduki posisi menteri. Tujuan Prabowo bukan untuk menjadi menteri tapi menjadi presiden. Sudah pasti mantan Danjen Kopassus itu akan mempertahankan harga dirinya untuk menjadi capres pada 2014.

“Tentu kemungkinan elit-elit Gerindra yang lain, seperti Fadli Zon. Fadli Zon kan bukan anggota DPR waktu banyak mengembangkan birokrasi. Apalagi selama ini kan Prabowo menganakemaskan Fadli Zon. Kemungkinan kalau tidak Fadli, ya Suhardi mantan Ketum DPP Partai Gerindra,”  ucapnya.

Bila akhirnya Gerindra masuk koalisi, apakah ini hanya sebatas untuk posisi menteri, ataukah PD dan SBY menyiapkan juga rencana jangka panjang untuk 2014? Sejumlah analisa muncul, masuknya Gerindra sudah pasti terkait juga dengan 2014. Saat ini PD nyaris tidak memiliki tokoh yang kuat selain SBY yang tidak mungkin lagi mencalonkan diri lagi.

Ketua PD Anas Urbaningrum dinilai masih terlalu bau kencur, sementara mencapreskan Ani Yudhoyono berisiko besar mendapat cap buruk mempertahankan dinasti. Di sisi lain, SBY dan Prabowo bersahabat sebagai sesama militer. Dengan perhitungan tersebut, PD bisa saja mendukung Prabowo yang jelas-jelas menyatakan siap menjadi capres. Mendukung Prabowo akan memberikan jaminan keselamatan bagi SBY karena mereka merupakan kawan.

Gerindra menilai analisa tersebut masih terlalu pagi. Kendati begitu, Gerindra memastikan memasukkan kader ke dalam kabinet merupakan salah satu proses untuk dukungan pencapresan Prabowo. “Ini terlalu pagi kalau tawaran itu kepada kita dengan Pilpres 2014 nanti. Tapi memang usaha kita untuk memasukan orang kita menjadi menteri di KIB Jilid II adalah proses panjang ke arah sana,” kata Fadli.

Fadli menegaskan, partainya akan selalu memperjuangkan kepentingan Gerindra mengusung pencalonan Prabowo sebagai Presiden 2014-2019 nanti. Perjuangan ini dilakukan dengan melakukan sejumlah langkah, salah satunya membesarkan Partai Gerindra, serta melakukan komunikasi politik dengan partai-partai politik lainnya guna mencari dukungan pencapresan nanti.

“Saat ini kan hanya ada satu sosok yang sangat dikenal luas oleh masyarakat seperti Pak Prabowo. Sementara ini tokoh lain dari parpol lain belum ada yang fix. PDIP, Partai Golkar dan Partai Demokrat sendiri masih belum ada yang jelas,” kata Fadli.

Meski akan mendapat banyak keuntungan dengan masuk kabinet, Gerindra juga harus ingat mereka justru bisa merugi dengan bergabung dengan SBY. Gerindra akan dicap sebagai parpol yang plinplan. “Masyarakat akan berfikir kalau Gerindra menelan ludahnya sendiri. Ujung-ujungnya kok mau. Lagi-lagi akan melihat Gerindra plin-plan mudah ke lain hati,” urai Burhanuddin.

(zal/iy)

Kategori:Seputar Istana
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: