Beranda > Seputar Istana > Segala Bujuk Rayu Demi Menyunting Puan

Segala Bujuk Rayu Demi Menyunting Puan

Senin, 07/03/2011 12:20 WIB
Otak-atik Koalisi (2)

Deden Gunawan,Iin Yumiyanti – detikNews

Segala Bujuk Rayu Demi Menyunting Puan

Jakarta – Hatta Rajasa mendadak bertamu ke rumah Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, pekan lalu. Di tengah hiruk pikuk rencana reshuffle kabinet, kedatangan Hatta tak pelak menimbulkan pergunjingan politik. Kedatangan Menko Perekonomian itu ke rumah Ketua Umum PDIP tersebut pastinya bukan kunjungan biasa.

Hatta merupakan orang istimewa bagi SBY. Ia dikenal bukan hanya sebagai pembantu presiden, seperti menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II lainnya. Ia disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan ada yang menyebut kalau Hatta dan SBY punya hubungan layaknya saudara.

Jangan heran ketika Hatta datang ke rumah Megawati beragam spekulasi pun bermunculan. Apalagi masalah perombakan koalisi dan reshuffle tengah ramai diperbincangkan, pasca rapat paripurna DPR soal hak angket mafia pajak.

SBY dan PD rupanya sudah tidak bisa lagi mentolerir tindakan Golkar dan PKS yang dianggapnya susah dianggap kompak. Sebab sikap perlawanan kedua partai itu bukan kali ini saja terjadi. Dalam kasus Century, PKS dan Golkar juga mengambil sikap berlawanan dengan PD dan mitra koalisi yang lain.

Sikap bandel PKS dan Golkar selama ini membuat PD berhitung ulang tentang masa depan koalisi. PD kemudian melirik Gerindra dan PDIP untuk dijadikan teman baru koalisi untuk menggusur PKS dan Golkar. PD lebih senang menggandeng PDIP dan Gerindra karena mudah dipegang sikapnya. Pemilik saham mayoritas PDIP dan Gerindra dipegang satu orang, PDIP dipegang Mega, Gerindra Prabowo. Maka bila si bos mengatakan A maka sampai bawah pun akan bersikap sama.

“Kalau kepala menyatakan bersedia koalisi maka buntutnya tidak kemana-mana. Bila Mega menyatakan siap koalisi, relatif lebih mudah bagi SBY mendapatkan loyalitas dari fraksi atau kader PDIP di parlemen. Lain dengan Golkar dan PKS, kepalanya dipegang tapi buntutnya kemana-mana,” nilai pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi.

Sejauh ini Gerindra sudah memberikan lampu hijau untuk bergabung dalam gerbong SBY. Dalam rapat internal di  Wisma Bidakara, Gerindra memberikan sinyal masuk dalam koalisi. Bahkan partai yang dipimpin Prabowo Subianto tersebut sudah memberikan usulan menteri kepada SBY.

“Kalau dipenuhi, itu hak Pak SBY dan Pak Prabowo. Pak SBY punya hak prerogatif, sedangkan Pak Prabowo punya kewenangan di Gerindra,” ujar Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, usai pertemuan itu.

Informasi yang beredar Gerindra akan mengisi pos Menteri Pertanian dan Meneg BUMN, yang saat ini dipegang Suswono dari PKS dan Mustafa Abubakar dari kalangan profesional, yang  belakangan banyak mendapat sorotan pasca IPO Krakatau steel.

Kalau Gerindra sudah dalam genggaman, lain halnya dengan PDIP. Untuk menggandeng partai yang selama ini beroposisi tentu bukan perkara mudah. Apalagi dalam Kongres PDIP 2009, partai berlambang kepala banteng ini mengeluarkan kebijakan untuk tetap berada di jalur oposisi.

Itu sebabnya baik kalangan elit maupun kader PDIP banyak yang menentang bila partai masuk koalisi. “Kalau ada kader PDIP yang jadi menteri, yah tentu akan ditindak tegas, diberi sanksi organisasi, atau secara sportif keluar dari partai,” ujar Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait .

Maruarar mengatakan, ada banyak alasan mengapa PDIP untuk tidak ikut bujukan PD. Sikap oposisi ini merupakan hasil keputusan kongres PDIP, yang merupakan hasil keputuan tertinggi partai. Selain itu, kata Maruarar, sampai saat ini sikap grass root menginginkan PDIP tetap sebagai oposisi. Yang tidak kalah penting, sikap pemerintah dengan PDIP dalam mengelola pemerintahan, sangat jauh berbeda.

“PDIP, sangat tegas menolak kenaikan BBM dan tarif listrik. PDIP juga menolak impor beras. Jadi ideologi kita dengan pemerintah berbeda,” tegasnya.

Sementara anggota DPP PDIP Bidang Tenaga Kerja, Budi Mulyawan, mengakui, terkait tawaran gabung ke koalisi membuat sikap elit PDIP jadi terbelah. Ada yang tetap ngotot menginginkan PDIP jadi oposisi ada juga yang menginginkan PDIP ikut dalam koalisi yang dibangun PD.

“Saat ini telah terjadi perpecahan di PDIP, antara kelompok pragmatis dan kelompok ideologis. Posisinya sama-sama kuat,” terang Mulyawan. Dijelaskan Mulyawan, kelompok pragmatis tersebut dipimpin oleh Taufiq Kiemas, Ketua MPR. Sedangkan kubu ideologis dipimpin istri Taufik, yakni Megawati.

Walau terjadi pertentangan, kata Mulyawan, kemungkinan besar Puan Maharani, yang saat ini menjabat Ketua DPP Bidang Politik antar Lembaga akan bergabung di kabinet SBY. Puan rencananya akan ditempatkan sebagai Menteri Sosial menggantikan Salim
Segaf Al-Jufri dari PKS.

Informasi yang diperoleh detikcom, PDIP saat ini ditawari jatah 2 menteri. Selain dapat jatah Mensos, PDIP juga dapat jatah Menkominfo, yang saat ini dijabat Tifatul Sembiring. “Kalau dapat jatah Menkominfo, jabatan ini akan diisi Effendi Simbolon,” ujar sumber detikcom di internal PDIP

Di samping jatah menteri, untuk jangka panjang PD menjanjikan akan menggandeng Puan sebagai cawapres mendampingi capres yang akan diusung PD pada 2014. Nah, tawaran inilah yang membuat Taufiq dan Puan tergiur. Apalagi jauh-jauh  hari Taufiq sudah menyatakan akan menyokong anaknya, Puan Maharani, untuk masuk dalam bursa cawapres 2014 mendatang.

Apapun tawaran PD, bergabung ke pemerintahan akan menguntungkan Puan. Menjabat menteri, akan sangat strategis untuk peningkatan pengalaman birokratis Puan. Apalagi kalau memegang kementerian portofolio berkenaan dengan orang banyak.

Namun masalahnya, Puan sekarang di persimpangan jalan, apakah ia akan mengikuti kata hati ayahnya untuk masuk koalisi atau memilih ibunya dengan beroposisi.

“Kalau puan berpikir secara rasioanl ia akan mengikuti bapaknya. Tapi bila secara emosiaonal ia akan mengikuti ibunya. Itu yang membuat Puan serba salah seolah menggantung. Kalau PDIP sendiri kuncinya menolak itu sudah ditegaskan Mega,” ujar Muhtadi.

Meski demikian, juru bicara PD Ruhut Sitompul memastikan peluang Puan bergabung sangat besar. Indikasinya, pernyataan Taufiq yang menegaskan kalau urusan PDIP berkoalisi ada di tangan Puan. “Dengan pernyataan Pak Taufiq itu kan sudah clear,” ucapnya.

(ddg/iy)

Kategori:Seputar Istana
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: