Beranda > Wisata > Inilah Artikel yang Menyebut Bali Sebagai ‘Pulau Neraka’ (Bagian 2)

Inilah Artikel yang Menyebut Bali Sebagai ‘Pulau Neraka’ (Bagian 2)

RepublikaRepublika – Sel, 5 Apr 2011 16.50 WIB
  • Pantai Kuta yang menjadi tujuan utama turis ke BaliPerbesar FotoPantai Kuta yang menjadi tujuan utama turis ke Bali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Inilah artikel di majalah Time yang membuat Pemprov Bali meradang. Judul artikel itu, ‘Holidays in Hell: Bali Ongoing Woes’. Artikel ditulis oleh Andrew Marshall.

Dalam tulisannya, Andrew membahas sejumlah masalah yang melilit Pulau Bali. Pulau yang menurut dia masih menjadi tujuan wisata internasional, bahkan dianggap negara lain di Indonesia.

Namun, Andrew menilai, infrastruktur pulau kurang cepat mengantisipasi perubahan pariwisata Bali. Andrew membuka tulisannya dengan kotornya pantai Kuta, salah satu lokasi wisata paling ramai di Bali.

Musim hujan yang cukup deras di Bali membuang sungai meluap. Alhasil sampah-sampah yang ada di sungai terbawa ke laut. Termasuk kotoran manusia. Sampah-sampah itu lantas berakhir di Pantai Kuta.

Ini membuat awal Maret lalu otoritas Pantai Kuta melarang turis berenang di pantai tersebut lebih dari 30 menit. Khawatir terkena infeksi kulit. Selain masalah polusi di pantai, lanjut Marshall, Bali juga mengalami problem kekurangan air, listrik mati hidup, sampah yang berserakan, drainase, hingga kemacetan serta kriminalitas.

Marshall menyandingkan kemacetan di Bali menyerupai di Jakarta. Sementara soal kriminalitas yang menyasar ke turis asing, sejak Januari lalu Polda Bali, menurut Marshall, menerapkan tembak ditempat bagi kriminal.

Menurut Marshall, salah satu masalah utama Bali adalah kebanyakan turis. Pada 2001, Bali didatangi 1,3 juta turis asing. Sepuluh tahun kemudian, meski sudah ada Bom Bali I dan II, turis yang datang ke Bali melesat mencapai dua juta orang per tahun. Ini belum terhitung jutaan turis lokal.

Dampak dari turis ini adalah pembangunan infrastruktur yang marak. Hotel dan pusat belanja tiba-tiba muncul di mana-mana. Sebaliknya, pembangunan ini kurang memperhitungkan infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, selokan, parkir.  “Infrastruktur Bali tidak bisa menyamai laju pembangunannya,: kata Ron Nomura, Direktur Marketing Asosiasi Hotel Bali.

Kategori:Wisata
  1. April 6, 2011 pukul 3:37 am

    smoga pemprov bali bisa memperbaiki kekurangan2nya…

  2. April 6, 2011 pukul 4:04 am

    Harapan kita begitu, namun mungkinkah?!?!?!?!?!?!? Sebab, pada umumnya pemerintah di republik ini sangat alergi dengan apa yang disebut “kritik”.

  3. April 6, 2011 pukul 4:14 am

    mengapa demikian????mengapa harus alergi???
    bukankah kritikan bisa membuat kita lebih baik???

  4. April 6, 2011 pukul 7:03 am

    Sebabnya, telah menjadi lumrah di republik ini bahwa bila seseorang sudah didahulukan selangkah, telah ditinggikan seranting, maka ia pun merasa dirinya telah menjadi segala-galanya. Jika telah demikian, maka secuil kritikan, apalagi datang dari pihak yang dianggap berseberangan dengannya akan “ditolak habis-habisan”. Wallahu a’lam.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: