Beranda > Partai Keadilan Sejahtera (PKS) > PKS ‘Partai Putih’ Terancam Noda dari Dalam

PKS ‘Partai Putih’ Terancam Noda dari Dalam

InilahOleh R Ferdian Andi R | Inilah – Min, 17 Apr 2011 08.51 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang lahir dari rahim reformasi kini berusia 13 tahun. Di antara partai pasca-orde baru, PKS termasuk paling eksis. Meski demikian, tantangan dari internal dan eksternal menghantui partai ini.

Di usia 13 tahun bagi PKS menjadi pencapaian penting bagi partai yang mulanya bernama Partai Keadilan (PK) ini. PKS turut serta menjadi bagian penting dalam transisi demokrasi di Indonesia. Namun bukan berarti PKS tanpa masalah. Seiring perjalanan 13 tahun secara linier muncul beragam persoalan baik di internal maupun eksternal.

Jika menilik perolehan suara PKS selama Pemilu pasca-reformasi tren pencapaian suara partai ini cenderung mengalami kenaikan. Meski sempat tidak lolos batas ambang suara (electoral threshold) saat bernama Partai Keadilan (PK) dalam Pemilu 1999 dengan memperoleh 1,36%, namun secara pasti, Pemilu 2004 membukukan kenaikan perolehan menjadi 7,3% dan Pemilu 2009 meraih 7,88%.

Namun dalam perjalanannya, PKS dirundung berbagai masalah. Kemunculan bekas politikus PKS Yusuf Supendi menjadi penanda, di internal partai ini banyak persoalan yang muncul. Yusuf Supendi menjadi simbol PKS tak ubahnya partai politik lainnya yang dirundung banyak masalah.

Perubahan orientasi PKS dari partai berasas Islam menjadi partai terbuka, nyatanya bukan tanpa penolakan di internal. Kicauan Yusuf Supendi serta bekas petinggi PK/PKS seperti mantan Wakil Presiden PK Syamsul Balda, mantan anggota Dewan Syariah Habibullah, serta mantan anggota Majelis Syura PKS Tizar Zein, menjadi fakta yang tak terelakkan perubahan PKS menimbulkan risiko. Memang keluarnya sejumlah tokoh tersebut melalui proses internal PKS karena dianggap melanggar AD/ART partai.

Fakta itu memunculkan sekaligus membenarkan asumsi publik selama ini tentang munculnya faksi dikotomik di internal PKS yakni faksi keadilan dan faksi kesejahteraan. Faksi keadilan identik dengan kader PKS yang masih memegang prinsip idealitas. Faksi kesejahteraan dilekatkan kepada kader yang cenderung pragmatis.

Tudingan ini memang dibantah para elit PKS. “Tidak ada faksi-faksi itu,” cetus anggota Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid dalam sebuah kesempatan.

Partai yang melekat dengan tagline ‘Bersih, Peduli, dan Profesional’ ini juga tidak terlepas dari persoalan para kadernya. Persoalan integritas menjadi momok di partai putih ini. Beberapa peristiwa di daerah yang melibatkan kader PKS seperti pijat, berjudi, serta korupsi menjadi tantangan tersendiri.

Apalagi, persoalan integritas ini juga merembet ke elit PKS di tingkat pusat dengan perilaku Arifinto, mantan anggota Majelis Syura PKS, yang menonton video porno saat paripurna DPR, 8 April 2011 lalu.

“Itu nasib yang dialami PKS. Partai putih, kalau kena noda hitam sedikit kelihatan. Kalau Partai Demokrat kan biru, hitam sedikit tidak kelihatan,” ujar Achmad Mubarok, anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat.

Selain persoalan internal, PKS juga disibukkan persoalan eksternalnya. Sejak terlibat dalam pemerintahan di era Presiden KH Abdurrahman Wahid, Presiden SBY hingga dua kali periode, selalu terjadi dinamika. Tarik menarik di internal kerap menjadi persoalan dalam relasi dengan pemerintahan. Dampaknya, sikap politik PKS kerap tak linier dengan mainstream partai koalisi.

Argumentasi demi kepentingan publik yang didengungkan PKS, nyatanya tak menghentikan polemik atas pilihan sikap politiknya. Sikap ini pula diklaim sebagai implementasi dari jargon ‘Partai Bersih, Peduli, dan Profesional’.

Yang terbaru dalam soal koalisi, PKS juga dirundung dalam posisi dilema. Sikap politik PKS khususnya terkait usul hak angket pajak, ternyata memberi komplikasi cukup serius bagi PKS dan koalisi. Karena, Partai Golkar yang juga mendukung usul hak angket pajak, nyatanya telah berdamai dengan Presiden SBY.

Usia ke-13 tahun bagi PKS sederet masalah siap menghadang. Soliditas kader yang menjadi ciri khas PKS, nyatanya tak cukup bagi partai ini untuk tumbuh dan berkembang. Persoalan internal menjadi tantangan terberat. Jika PKS hanya memiliki deferensiasi citra dan tanda gambar dengan partai lain, itu tidaklah cukup.

Praktik kader PKS baik di legislatif dan eksekutif rentan menyerempet bahkan melanggar jargon yang menjadi kebanggaan selama ini. Praktik politik kader PKS yang tak jarang masuk dalam wilayah abu-abu, sebagaimana yang melekat dalam praktik politik kebanyakan, turut menodai partai putih ini.

Padahal dalam keyakinan PKS; halal adalah nyata, begitu pula dengan haram, juga nyata. Jika pemahaman ini aplikatif di lapangan, ‘Partai Bersih, Peduli, dan Profesional’ bakal melekat di partai ini. Sekarang semuanya kembali ke kader dan para penggiatnya. [mdr]

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: