Beranda > Politik > LSI: Pemilih Bisa Kurang dari 50 Persen

LSI: Pemilih Bisa Kurang dari 50 Persen

Liputan 6Liputan 6 – Min, 29 Mei 2011

Liputan6.com, Jakarta: Lembaga Survei Indonesia atau LSI memperkirakan tingkat partisipasi pemilih yang menggunakan hak suaranya pada pemilu legislatif akan terus menurun hingga kurang dari 50 persen. “Jika tingkat partisipasi masyarakat pada pemilu legislatif kurang dari 50 persen, maka legitimasi parlemen dan anggotanya dipertanyakan,” kata Peneliti Utama LSI Saiful Mujani ketika mempublikasikan hasil survei LSI menganai “Pemilih Mengambang dan Prospek Perubahan Kekuatan Partai Politik” di Jakarta, Ahad (29/5).

Menurut Saiful, tingkat partisipasi pemilih dalam 10 tahun terakhir sudah turun sekitar 20 persen dari 93,3 persen menjadi 70,99 persen. Jika penurunan tingkat partisipasi pemilih tersebut secara linier, lanjutnya, maka diperkirakan tingkat partisipasi pemilih pada 2014 mendatang turun lagi menjadi sekitar 60 persen dan pada pemilu 2019 menjadi kurang dari 50 persen. “Jika sampai pada titik ini menunjukkan tanda-tanda partai politik sama sekali tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat,” ucap Saiful.

Terus menurunnya tingkat partisipasi pemilih pada pemilu, jelas Saiful, menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik rendah serta hubungan emosional antara partai poltik dan pemilihnya sangat lemah. Dari hasil survei LSI terhadap pemilih di Indonesia, ungkapnya, hanya sekitar 20 persen pemilih yang loyal dan menyatakan dekat dengan partai politik secara keseluruhan. Sedangkan sebanyak 80 persen pemilih menyatakan tidak dekat dengan partai politik atau massa mengambang.

Dari jumlah 20 persen pemilih yang merasa dekat dengan partai politik, sebarannya meliputi PDI Perjuangan sebanyak 5,1 persen, Partai Golkar 3,7 persen,  Partai Denokrat 3,5 persen, PKS 1,7 persen, PPP 1,3 persen, PKB 1,1 persen, Gerindra 0,9 persden, serta PAN 0,6 persen.

Menurut dia, massa mengambang menilai partai politik tidak memiliki ideologi dan program kerjanya juga tidak jelas. Partai politik, kata dia, tidak melakukan pendidikan politik secara kontinyu, tapi lebih banyak memobilisasi dukungan hanya beberapa bulan menjelang pemilu dengan pendekatan uang.(ANT/BOG)

Kategori:Politik
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: